Wall Street Menguat Usai Laporan Keuangan Amazon Dorong Saham AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (31/7), didorong oleh lonjakan saham Amazon setelah laporan finansial kuartalannya meningkatkan kepercayaan penanammodal terhadap saham-saham mengenai kepintaran buatan alias AI. Sementara itu, saham Apple melemah setelah hasil kinerjanya mengecewakan investor.

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 naik 0,70 persen dan ditutup di level 7.489,72 poin. Meski demikian, jumlah saham nan melemah tetap lebih banyak dibandingkan saham nan menguat dengan rasio 1,3 banding 1. Indeks Nasdaq naik 1 persen menjadi 25.373,85 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average menguat 0,53 persen ke level 52.485,03 poin.

Saham Amazon.com melonjak lebih dari 15 persen setelah membukukan pertumbuhan pendapatan kuartalan terbesar dalam lebih dari empat tahun. Hasil tersebut, berbareng laporan Microsoft nan dirilis pada Rabu (28/7), meredakan kekhawatiran penanammodal mengenai potensi pemborosan shopping pembangunan pusat info AI.

Sebelumnya, kekhawatiran mengenai investasi besar pada prasarana AI memerlukan waktu terlalu lama untuk menghasilkan untung telah mengguncang pasar dunia bulan ini dan memicu keraguan terhadap perusahaan-perusahaan nan menjadi motor reli Wall Street dalam beberapa tahun terakhir.

“Ada kekhawatiran bahwa shopping Amazon hanyalah pengeluaran spekulatif nan tidak bertanggung jawab, dan (CEO) Andy Jassy sukses menghapus kekhawatiran tersebut,” ujar CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, Jake Dollarhide.

instagram embed

Indeks semikonduktor PHLX pun naik tipis 0,07 persen, meski tetap turun lebih dari 20 persen dibandingkan rekor penutupan tertinggi pada 22 Juni lalu.

Sementara itu, saham Apple ambruk 7,4 persen setelah memperingatkan bahwa hambatan pasokan bakal menghalang pertumbuhan perusahaan. Peringatan tersebut menambah kekhawatiran bahwa kenaikan nilai iPhone belakangan ini bakal melemahkan permintaan konsumen.

Di sisi lain, pelemahan Apple membikin indeks teknologi S&P 500 turun 0,54 persen meskipun saham-saham teknologi lainnya mencatat kenaikan. Saham Microsoft naik 3 persen, melanjutkan reli setelah melonjak lebih dari 15 persen pada Kamis (30/7), kenaikan harian terbesar sejak 2008, setelah perusahaan memproyeksikan pertumbuhan upaya komputasi awan nan lebih kuat dari perkiraan.

Saham Monolithic Power Systems naik lebih dari 8 persen setelah perusahaan memperkirakan pendapatan kuartal ketiga melampaui perkiraan pasar.

Volume perdagangan di bursa AS tergolong tinggi, dengan total 20,6 miliar saham beranjak tangan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata 17,1 miliar saham selama 20 sesi perdagangan sebelumnya.

Secara mingguan, indeks S&P 500 menguat 1,05 persen sedangkan Nasdaq naik 1,59 persen. S&P 500 mengakhiri Juli relatif tidak berubah dibandingkan Juni, sementara Nasdaq turun 3,2 persen. Meski demikian, kedua indeks tetap mencatat kenaikan sekitar 9 persen sepanjang 2026.

Pekerja memandang pergerakan saham dari layar monitor di Wall Street di New York City. Foto: Eisele / AFP

Analis memperkirakan untung agregat emiten personil S&P 500 pada kuartal II bakal melonjak 48 persen dibandingkan periode nan sama tahun lalu, dengan sebagian besar pertumbuhan tersebut ditopang oleh saham-saham mengenai AI, menurut info LSEG I/B/E/S.

Prospek untung nan kuat dan penurunan nilai saham belakangan ini membikin S&P 500 diperdagangkan pada sekitar 20 kali perkiraan laba, sedikit di atas rata-rata 10 tahunnya nan berada di level 19 kali, berasas info LSEG.

Indeks S&P 500 equal-weighted mencatat kenaikan untuk bulan keempat berturut-turut, didukung oleh eksposurnya nan lebih mini terhadap saham-saham AI berkapitalisasi besar nan berkinerja kurang baik selama sebagian besar periode tersebut.

Tiga pejabat Federal Reserve nan berbeda pendapat dalam rapat kebijakan bank sentral pekan ini, dengan mendukung kenaikan suku kembang pada Jumat (31/7) menyerukan tindakan segera untuk menurunkan inflasi kembali ke sasaran 2 persen nan ditetapkan bank sentral AS.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, nan umumnya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku kembang The Fed, naik 5,4 pedoman poin menjadi 4,28 persen. Meski demikian, secara mingguan imbal hasil tersebut tetap sedikit lebih rendah.

Pelaku pasar sekarang memperkirakan kesempatan sebesar 65 persen bahwa The Fed bakal meningkatkan suku kembang pada pertemuan September, menurut CME FedWatch. Angka tersebut turun dari 82 persen sepekan sebelumnya, tetapi sedikit lebih tinggi dibandingkan 63 persen pada Kamis (30/7).

Saham perusahaan penyedia jasa registrasi domain GoDaddy merosot nyaris 17 persen setelah perusahaan memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan.

Pada perdagangan Jumat (31/7), indeks S&P 500 mencatat empat saham nan menyentuh level tertinggi baru dan empat saham nan menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq membukukan 52 saham nan mencapai level tertinggi baru dan 131 saham nan mencetak level terendah baru.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan