Indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup melemah pada Selasa (18/8), dengan saham semikonduktor memimpin penurunan di sektor teknologi.
Ketidakpastian di Timur Tengah mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya pinjaman dan inflasi.
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 turun 53,30 poin alias 0,69 persen menjadi 7.691,76, sedangkan Nasdaq Composite melemah 355,20 poin alias 1,33 persen menjadi 26.289,71. Keduanya mencatat penurunan persentase harian terbesar sejak 29 Juli. Kemudian Dow Jones Industrial Average turun 116,38 poin alias 0,22 persen menjadi 53.343,40.
Memudarnya angan bakal perdamaian di Timur Tengah mendorong nilai minyak naik, nan kemudian memicu kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun juga menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.
Philadelphia SE Semiconductor Index pun ambruk 5 persen lantaran penanammodal melepas saham-saham nan sebelumnya menguat berkah tingginya permintaan mengenai kepintaran buatan (AI). Kenaikan biaya pinjaman membikin penanammodal menurunkan valuasi nan bersedia mereka bayarkan untuk potensi pertumbuhan untung perusahaan teknologi.
“Ini nyaris seperti pengaruh domino. Perundingan gagal. Hal itu menyebabkan nilai minyak naik. Kemudian memicu kenaikan ekspektasi inflasi dan imbal hasil obligasi pun naik,” kata manajer portofolio di NFJ Investment Group, Burns McKinney.
“Setiap kali imbal hasil obligasi naik, perihal itu condong memberikan tekanan nan tidak proporsional terhadap saham-saham teknologi,” lanjutnya.
Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor teknologi info menjadi pemberi tekanan terbesar terhadap indeks dan sekaligus mencatatkan penurunan persentase terbesar, ialah 1,9 persen.
Tekanan terbesar terhadap S&P 500 dari saham-saham perseorangan berasal dari perusahaan chip, termasuk produsen chip AI terkemuka Nvidia nan turun 2,3 persen, serta produsen chip memori Micron Technology nan merosot 7 persen setelah sebelumnya melonjak nyaris 18 persen dalam lima sesi perdagangan terakhir.
Saham-saham lain nan terkena tekanan cukup besar antara lain perusahaan penyimpanan info Sandisk dan Western Digital, nan masing-masing turun 9 persen dan 7,4 persen. Roundhill Memory ETF ambruk 8,8 persen setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama lima sesi berturut-turut.
“Tidak banyak perihal nan bisa mematahkan reli saham berbasis momentum selain kenaikan suku bunga, dan kita mendapatkan buktinya hari ini,” kata Chief Investment Officer di SignatureFD, Tony Welch.
Ia menambahkan kenaikan imbal hasil menunjukkan kebijakan Federal Reserve terlalu lenggang jika dibandingkan dengan prospek pertumbuhan dan inflasi.
Ketika meninggalkan sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi, penanammodal beranjak ke sektor nan lebih defensif, seperti sektor kesehatan nan naik 1,6 persen dan peralatan kebutuhan pokok konsumen nan menguat 1,1 persen. Indeks nan menjadi parameter ketakutan di Wall Street ditutup naik 0,65 poin menjadi 15,84, sekaligus mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 4 Agustus.
Didukung oleh kenaikan nilai minyak, sektor daya S&P 500 menjadi sektor dengan keahlian terbaik pada hari itu, naik 1,8 persen. Menjelang sore, perjanjian berjangka minyak mentah AS telah memangkas sebagian besar kenaikannya, tetapi tetap ditutup naik 0,5 persen, setelah Iran menakut-nakuti untuk beranjak ke posisi militer nan “sepenuhnya ofensif” dan Washington menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata.
Saham peritel perlengkapan rumah tangga Home Depot turun tipis 0,1 persen, meskipun perusahaan tersebut membukukan penjualan kuartal II di atas perkiraan.
Investor menantikan laporan keahlian nan bakal dirilis oleh sejumlah peritel lainnya pada akhir pekan ini, termasuk Walmart nan menjadi salah satu parameter utama sektor tersebut. Risalah rapat The Fed pada Juli nan bakal dirilis pada Rabu (19/8) juga dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai gimana bank sentral menilai kondisi ekonomi saat ini.
Investor menilai laporan finansial kuartalan Nvidia nan bakal datang sebagai ujian besar berikutnya bagi momentum pasar nan didorong oleh AI.
Jumlah saham nan turun mengungguli saham nan naik dengan rasio 1,94 banding 1 di NYSE. Di bursa tersebut, terdapat 169 saham nan mencatatkan level tertinggi baru dan 252 saham nan mencapai level terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 1.778 saham menguat dan 2.977 saham melemah, sehingga saham nan turun mengungguli saham nan naik dengan rasio 1,67 banding 1.
S&P 500 mencatatkan 10 saham nan mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham nan mencapai level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatatkan 75 saham nan mencapai level tertinggi baru dan 121 saham nan mencapai level terendah baru.
Di bursa AS, sebanyak 14,86 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata pergerakan 16,88 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·