Wall Street Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak Mentah

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Wall Street melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (1/9). Maraknya tindakan lepas obligasi dunia dan lonjakan nilai minyak mentah menekan pasar di tengah memudarnya angan penyelesaian bentrok AS-Israel dengan Iran.

Mengutip Reuters, tiga indeks utama Wall Street mengawali September di area merah. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun, dipicu spekulasi bahwa bank sentral bakal mempercepat kenaikan suku kembang acuan.

Selain aspek geopolitik, tekanan musiman turut membayangi. Secara historis sejak 1926, September merupakan satu-satunya bulan dengan rata-rata return negatif untuk bursa saham AS.

Eskalasi militer kian memanas setelah AS melancarkan serangan udara baru ke sasaran Iran di Selat Hormuz.

Langkah ini menyusul rencana hukuman perbankan baru AS untuk menekan Teheran, nan dibalas peringatan Iran untuk memblokir ekspor minyak dari Teluk.

Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran inflasi. Indikator CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku kembang The Fed sebesar 25 pedoman poin pada September melompat ke posisi 68,2 persen, dari 39,6 persen pada pekan lalu.

Pada akhir perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average ambruk 418,97 poin (0,79 persen) ke 52.766,93. S&P 500 merosot 54,67 poin (0,71 persen) ke 7.631,47, dan Nasdaq Composite terkoreksi 271,11 poin (1,03 persen) ke posisi 26.099,77.

Sektor daya memimpin penguatan berkah kenaikan nilai minyak, sementara sektor consumer discretionary mengalami penurunan paling dalam. Indeks Semikonduktor Philadelphia melorot 2,1 persen dengan seluruh komponen sahamnya ditutup melemah.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat sebesar 14,38 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata harian 15,35 miliar saham dalam 20 hari terakhir.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan