Indeks-indeks utama Wall Street ditutup menguat dan mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Jumat (17/4) waktu setempat, setelah harga minyak bumi jatuh tajam menyusul dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran.
Mengutip Reuters pada Sabtu (18/4), indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing mencatat rekor penutupan tertinggi untuk tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menembus level penutupan tertinggi sejak akhir Februari.
Sentimen positif pasar muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan dalam unggahan di media sosial X bahwa jalur pelayaran untuk seluruh kapal komersial di Selat Hormuz telah dibuka penuh. Ia menyebut jalur tersebut "completely open" setelah adanya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan antara Washington dan Teheran dapat berjalan akhir pekan ini. Dia juga menyebut kesempatan tercapainya kesepakatan tenteram untuk mengakhiri perang Iran semakin terbuka.
Meski tetap ada ketidakpastian mengenai kecepatan normalisasi jalur pengiriman, nilai minyak mentah Amerika Serikat turun lebih dari 11 persen. Penurunan nilai daya itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.
"Kekhawatiran tentang minyak nan bakal memperlambat perekonomian bumi berkurang seiring dengan kemajuan menuju kemungkinan kesepakatan akhir," kata CEO Crossmark, Bob Doll.
Indeks Nasdaq Composite melonjak 365,78 poin alias 1,52 persen ke level 24.468,48. Kenaikan ini menjadi reli hari ke-13 berturut-turut dan merupakan penguatan terpanjang sejak 1992.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 868,71 poin alias 1,79 persen ke level 49.447,43. Adapun S&P 500 bertambah 84,78 poin alias 1,20 persen ke posisi 7.126,06.
Secara mingguan, S&P 500 menguat 4,53 persen, Nasdaq melonjak 6,84 persen, dan Dow Jones naik 3,20 persen.
Indeks saham berkapitalisasi mini Russell 2000 juga naik 2,10 persen dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru. Indeks ini sebelumnya sempat menyentuh rekor intraday pertamanya sejak perang pecah.
"Penurunan nilai daya berakibat lebih besar pada perusahaan-perusahaan mini lantaran mereka mempunyai margin untung nan lebih ketat," kata CEO Willis Johnson & Associates, Nick Johnson.
Di tengah turunnya nilai minyak, sektor daya jadi satu-satunya sektor besar nan tertekan di S&P 500 dengan penurunan 2,9 persen. Saham Exxon Mobil turun 3,6 persen, sedangkan Chevron melemah 2,2 persen.
Sebaliknya, sektor konsumen non-primer menguat nyaris 2 persen, dipimpin saham operator kapal pesiar Royal Caribbean nan melonjak 7,3 persen dan Carnival Corporation naik 7 persen.
Sektor industri menguat 1,8 persen, ditopang lonjakan saham United Airlines sebesar 7 persen.
Di sisi lain, saham Netflix ambruk 9,7 persen setelah memproyeksikan untung kuartal melangkah di bawah ekspektasi pasar. Perusahaan juga mengumumkan mundurnya salah satu pendiri sekaligus Chairman lama, Reed Hastings, nan mengakhiri masa kedudukan selama 29 tahun.
Saham Alcoa turun 6,8 persen setelah melaporkan untung dan pendapatan kuartal pertama di bawah perkiraan analis akibat kenaikan biaya dan melemahnya permintaan.
Di Bursa Efek New York, saham nan naik mengungguli saham nan turun dengan rasio 4,03 banding 1. Sebanyak 623 saham mencetak level tertinggi baru dan 46 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 3.685 saham naik dan 1.183 saham turun, alias rasio 3,11 banding 1. S&P 500 mencatat 49 saham menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu dan tidak ada saham nan mencetak level terendah baru.
Volume transaksi di bursa AS mencapai 20,29 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 19,12 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·