Wall Street Ditutup Melemah, Investor Cermati Data Pekerjaan AS

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup melemah pada Kamis (6/8). Meningkatnya akibat geopolitik membikin saham dan obligasi turun lantaran nilai minyak melonjak, memicu kekhawatiran inflasi sebelum laporan info pekerjaan pada Jumat (7/8) waktu setempat.

Dikutip dari Bloomberg, S&P 500 turun 0,2 persen pada pukul 4 sore waktu New York. Nasdaq 100 jatuh 0,4 persen, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,9 persen.

S&P 500 jatuh dua hari berturut-turut. Perusahaan memori Sandisk Corp. dan Western Digital Corp. tenggelam lantaran perkiraan mereka mengecewakan investor.

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kurangnya kejelasan tentang kesepakatan untuk menghidupkan kembali Selat Hormuz mendorong minyak mentah Brent menjadi USD 83 pada jam-jam terakhir. Biaya daya nan lebih tinggi memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) kudu meningkatkan tarif.

Iran berupaya melarang kapal AS dan Israel dari Selat Hormuz dan meminta kompensasi dari negara-negara nan bermusuhan, sebelum mereka diizinkan untuk menggunakannya, menurut laporan media lokal tentang kesepakatan Iran-Oman nan diusulkan untuk mengelola jalur air nan penting.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Secara terpisah, instansi buletin Fars mengatakan pasukan angkatan laut Iran telah menyerang "target bermusuhan" di pintu masuk ke selat. Ketegangan geopolitik itu muncul kembali pada saat beberapa pejabat The Fed mendorong untuk meningkatkan suku kembang untuk menekan tekanan harga.

"Risiko jangka pendek tetap ada, terutama jika info AS tetap kuat, nilai minyak menjaga kekhawatiran inflasi tetap hidup, alias pasar terus menetapkan nilai di jalur suku kembang Federal Reserve nan lebih hawkish," kata Kepala Kantor Investasi UBS, Ulrike Hoffmann-Burchardi.

Putaran info terbaru terus mencerminkan ketahanan pasar tenaga kerja, memperkuat dugaan bahwa inflasi bakal mendorong keputusan bank sentral September, kata Vail Hartman di BMO Capital Markets.

Pengusaha di AS kemungkinan meningkatkan laju perekrutan mereka pada Juli, menunjukkan selera nan stabil untuk pekerja meskipun inflasi meningkat.

Para ahli ekonomi memperkirakan laporan pekerjaan bulanan pada Jumat bakal menunjukkan peningkatan 80.000 dalam daftar penghasilan setelah kenaikan 57.000 lebih rendah dari perkiraan pada bulan Juni.

"Laporan pekerjaan hari Jumat lebih krusial bagi pasar mengingat seberapa sigap pasar saham ini telah menguat selama seminggu terakhir, dan pada akhirnya kita perlu memandang nomor nan tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin agar pasar terus menggiling lebih tinggi," kata Clark Bellin analis di Bellwether Wealth.

Ilustrasi Pekerja di Amerika Serikat Foto: Thinkstock

Aplikasi untuk tunjangan pengangguran sedikit berubah, tetap di bawah 200.000 untuk minggu ketiga berturut-turut. Sebuah laporan terpisah menunjukkan produktivitas tenaga kerja lebih sigap dari nan diharapkan pada kuartal II 2026 lantaran pengusaha berupaya untuk mengurangi biaya nan lebih tinggi.

Pasar tenaga kerja memperkuat dengan baik dalam menghadapi kenaikan suku kembang dan peningkatan produktivitas AI. Kami tetap memandang banyak perusahaan mempertahankan tenaga kerja mereka apalagi ketika investasi AI bertahan,” kata Bellin.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan