Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5).
Upacara diikuti oleh ASN Pemprov DKI Jakarta dan sejumlah pembimbing serta siswa sekolah. Turut datang pula Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.
Rano menegaskan, pendidikan kudu menjadi kewenangan nan dapat dirasakan semua anak, tanpa terhalang beragam kondisi.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta percaya bahwa tidak boleh ada anak nan tertinggal hanya lantaran keadaan. Tidak boleh ada mimpi nan terkunci hanya lantaran persoalan biaya, ijazah, akses, alias bencana,” kata Rano saat menjadi pengawas upacara.
“Pendidikan kudu menjadi jembatan, bukan tembok. Pendidikan kudu menjadi pintu, bukan pagar,” lanjutnya.
Ia menyampaikan, peringatan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi berbareng tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi masa depan bangsa.
“Hari ini kita berdiri di bawah langit Jakarta, dalam satu upacara nan bukan sekadar seremoni. Hari Pendidikan Nasional bukan hanya tanggal nan kita peringati setiap tahun. Ia adalah lonceng kesadaran, dia adalah panggilan moral,” kata Rano.
“Ia mengingatkan kita bahwa masa depan sebuah bangsa tidak semata-mata dibangun oleh gedung-gedung tinggi, jalan-jalan besar, alias pusat ekonomi nan megah, tetapi oleh ruang kelas nan menyala, oleh guru-guru nan tidak capek menuntun, dan oleh anak-anak nan berani bermimpi,” sambungnya.
Dalam pidatonya, Rano juga menyinggung pemikiran Ki Hajar Dewantara nan menjadi dasar filosofi pendidikan nasional. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter.
“Pendidikan adalah jalan panjang untuk memerdekakan manusia. Itulah roh besar nan diwariskan Ki Hajar Dewantara. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kitab ke kepala, tetapi menyalakan budi pekerti, membentuk watak, menumbuhkan keberanian, dan memuliakan martabat manusia,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan kembali filosofi pendidikan nan diwariskan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman bagi para pendidik.
“Ki Hajar Dewantara meninggalkan pesan nan terus hidup dalam degub pendidikan kita: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan, seorang pendidik memberi teladan; di tengah, dia membangun semangat; di belakang, dia memberi dorongan. Inilah filosofi nan hari ini kudu terus kita hidupkan di Jakarta,” ucapnya.
Rano turut menyampaikan apresiasi kepada para pembimbing nan dinilainya mempunyai peran besar dalam membangun masa depan generasi muda.
“Kepada guru-guru, izinkan kami menyampaikan rasa hormat nan setinggi-tingginya. Bapak dan Ibu bukan hanya pengajar, Bapak dan Ibu adalah penjaga api peradaban. Dalam tangan Bapak dan Ibu, huruf-huruf menjadi harapan, angka-angka menjadi jalan keluar, pelajaran menjadi keberanian, nasihat menjadi bekal hidup,” katanya.
Ia juga menyoroti peran besar pembimbing nan kerap tidak terlihat, namun berakibat nyata dalam kehidupan para murid.
“Mungkin bumi tidak selalu cukup sigap memberi penghargaan kepada guru. Mungkin tidak semua pengabdian pembimbing tercatat dalam laporan. Tidak semua cerita kesabaran para pembimbing masuk dalam berita,” ungkap Rano.
“Tetapi percayalah, setiap anak nan sukses bangkit, setiap siswa nan menemukan arah hidup, setiap family nan masa depannya berubah lantaran pendidikan, di sanalah ada jejak sunyi seorang guru,” sambungnya.
Rano kemudian berpesan kepada para pelajar agar terus antusias dalam menempuh pendidikan dan tidak menjadikan kondisi sebagai penghalang untuk meraih masa depan.
“Kepada anak-anakku, para pelajar Jakarta nan saya cintai, ingatlah, kalian bukan hanya sedang mengejar nilai, kalian sedang membangun diri, kalian sedang menyiapkan masa depan. Jangan pernah merasa bahwa keadaan hari ini adalah pemisah akhir dari hidup kalian,” ucap Rano.
“Pendidikan datang justru untuk membuka jalan ketika jalan terasa tertutup. Pendidikan datang untuk memberi sinar ketika hidup terasa gelap. Pendidikan datang untuk mengatakan kepada setiap anak: engkau berkuasa bermimpi, engkau berkuasa maju, engkau berkuasa sampai,” tutupnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·