Petugas kesehatan Kongo.(Al Jazeera)
REPUBLIK Demokratik Kongo (RD Kongo) kembali menghadapi krisis kesehatan hebat. Wabah Ebola ke-17 nan melanda wilayah timur negara tersebut sekarang berada pada titik kritis. Ketakutan dan penyangkalan masyarakat menjadi penghalang utama dalam upaya pengamanan nyawa.
Di Mongbwalu, satu kota di Provinsi Ituri nan menjadi pusat wabah, Laureine Sakiya, 26, adalah satu dari sedikit penduduk nan percaya bahwa virus mematikan ini nyata. Setelah menyaksikan tetangganya meninggal satu per satu, dia mendesak otoritas untuk segera bertindak. "Pemerintah kudu membawakan kami vaksin," ujarnya kepada AFP.
Varian Bundibugyo: Tanpa Vaksin dan Pengobatan
Tantangan terbesar dalam pandemi kali ini adalah jenis virus nan menyerang. Otoritas kesehatan mengonfirmasi bahwa pandemi ini disebabkan oleh strain Bundibugyo. Berbeda dengan strain Zaire nan mempunyai vaksin efektif, saat ini belum ada vaksin alias pengobatan unik nan tersedia untuk jenis Bundibugyo.
Hingga 24 Mei 2026, pandemi ini diyakini menewaskan sedikitnya 204 orang di seluruh negeri. Di Mongbwalu sendiri, dari 322 orang nan diduga terinfeksi, 88 di antaranya meninggal dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan epidemi ini sebagai darurat internasional setelah virus menyebar ke provinsi tetangga hingga mencapai wilayah Uganda.
Status Darurat: WHO menetapkan pandemi Ebola strain Bundibugyo sebagai darurat kesehatan internasional lantaran penyebaran lintas pemisah dan ketiadaan vaksin spesifik.
Penyangkalan dan Skandal Peti Mati
Ketidakpercayaan terhadap pemerintah nan berakar dari bentrok berkepanjangan dan pengabaian selama puluhan tahun memicu teori persekongkolan di tengah masyarakat. Banyak penduduk menganggap Ebola sebagai penyakit mistis atau rekayasa politik.
Jonathan Imbalapay, seorang tokoh masyarakat di Mongbwalu, menceritakan awal mula meluasnya ketakutan nan disebut penduduk sebagai urusan peti mati. Kasus pertama teridentifikasi di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri. Saat jenazah korban dibawa pulang ke Mongbwalu menempuh perjalanan darat sejauh 80 kilometer, peti meninggal tersebut rusak akibat kondisi jalan nan buruk.
Paparan jenazah nan terinfeksi ke lingkungan terbuka memicu kepanikan. Ironisnya, tes awal di laboratorium provinsi kandas mendeteksi Ebola, nan membikin penduduk semakin percaya bahwa penyakit ini bukan virus medis. Konfirmasi resmi baru didapat setelah sampel dikirim ke laboratorium biomedis di Kinshasa, nan berjarak 1.800 kilometer dari letak kejadian.
Kondisi Fasilitas Medis nan Memprihatinkan
Di rumah sakit lokal Mongbwalu, para petugas medis bekerja dengan akomodasi seadanya. Meskipun mereka mengenakan busana pelindung (hazardsuit) komplit dengan masker dan kacamata, sarana sanitasi dasar tetap sangat terbatas. Pembasuhan tangan, misalnya, tetap dilakukan menggunakan ember plastik, simbol keterlambatan respons terhadap pandemi nan dikhawatirkan menjadi salah satu nan terburuk dalam sejarah.
Lembaga support internasional seperti Doctors Without Borders (MSF) memberikan support berupa tenda isolasi untuk memisahkan pasien suspek. Namun, mobilitas tinggi para penambang emas dan pedagang di wilayah kaya mineral ini membikin pencarian kontak menjadi sangat sulit.
Adam Hussein, perwakilan penyembuh tradisional di Mongbwalu, menyatakan kekhawatirannya terhadap penduduk nan tetap menyangkal keberadaan virus ini. "Saya cemas dengan mereka nan mengatakan penyakit ini diciptakan. Kita semua kudu mengambil tindakan pencegahan sebelum terlambat," tegasnya. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·