Ilustrasi.(Magnific)
JUMLAJ korban tewas akibat pandemi Ebola di Afrika Tengah kembali meningkat pada Rabu (20/5/2026). Di saat nan sama, dua penduduk negara Amerika Serikat nan terpapar virus tersebut tiba di Eropa untuk menjalani perawatan intensif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kesiapan vaksin tetap menyantap waktu berbulan-bulan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konvensi pers menyatakan bahwa saat ini terdapat lebih dari 600 kasus suspek dan 139 kematian nan diduga akibat virus tersebut, kebanyakan terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC).
"Kami memperkirakan angka-angka tersebut bakal terus meningkat. Kami tahu bahwa skala epidemi di DRC jauh lebih besar," ujar Tedros.
Tantangan Strain Bundibugyo nan Langka
Upaya memadamkan epidemi ini diprediksi bakal sangat susah lantaran strain Ebola nan langka, ialah Bundibugyo. Berbeda dengan strain Zaire nan sudah mempunyai vaksin, strain Bundibugyo belum mempunyai vaksin alias pengobatan nan disetujui, dengan tingkat fatalitas kasus (CFR) antara 30% hingga 50%.
Wabah itu juga dinilai terlambat terdeteksi. Anaïs Legand, pejabat teknis WHO untuk demam berdarah dan virus, menyebut bahwa pandemi ini diyakini telah dimulai mungkin beberapa bulan nan lalu. Situasi diperparah lantaran pusat pandemi berada di wilayah nan didera konflik, dengan kasus nan sudah terdeteksi di kota Goma nan dikuasai pemberontak.
Kondisi Vaksin Saat Ini:
- Kandidat vaksin pertama: Diperkirakan 6-9 bulan lagi untuk uji klinis.
- Kandidat vaksin Oxford & Serum Institute India: Sedang diproduksi, tetapi belum ada info uji hewan nan mendukung.
- Kemungkinan tercepat: Dosis untuk uji klinis mungkin tersedia dalam 2-3 bulan, tetapi dengan ketidakpastian tinggi.
Evakuasi Medis ke Eropa
Dua tenaga medis asal Amerika Serikat sekarang tengah dievakuasi ke Eropa untuk mendapatkan perawatan spesialis:
- Dr. Peter Stafford: Seorang misionaris Amerika nan tertular saat merawat pasien di Kongo. Ia sekarang dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Charité, Berlin, Jerman.
- Dokter AS (Anonim): Dievakuasi ke Rumah Sakit Bulovka di Praha, Ceko, menggunakan kotak isolasi transportasi unik setelah melakukan kontak dengan pasien Ebola.
Meskipun WHO menyatakan akibat pandemi dunia saat ini tetap sangat rendah, ancaman bagi negara-negara di area Afrika Tengah tetap berada pada level parah. Uganda melaporkan dua kasus dan satu kematian suspek nan mengenai dengan penyebaran dari negara tetangganya, Kongo.
Para pejabat kesehatan internasional sekarang dihantui ingatan jelek tentang pandemi di Afrika Barat tahun 2013-2016 nan menewaskan lebih dari 11.000 orang. Fokus utama saat ini yaitu memperkuat pengamanan di akomodasi penelitian medis, seperti Institut Penelitian Biomedis Nasional di Goma, guna mencegah penyebaran lebih lanjut di tengah situasi keamanan nan tidak stabil. (NBC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·