Virus Mematikan Menyebar, Tim Pemakaman Jadi Sasaran Kemarahan Warga

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) tidak hanya menakut-nakuti pasien dan tenaga medis. Tetapi juga para petugas nan menangani jenazah.

Di Provinsi Ituri, tim pemakaman kudu bekerja di tengah kelelahan, ketakutan tertular, hingga kemarahan family korban. Yuma Adolphe, salah satu personil tim pemakaman, mengatakan tekanan pekerjaan semakin berat seiring meningkatnya jumlah korban.

"Sulit rasanya, tetapi kami berupaya memaksakan diri melampaui pemisah keahlian kami," ujarnya kepada The Associated Press, dikutip Senin (7/9/2026).

Sejak pandemi merebak pada pertengahan Mei, tim-tim mini seperti nan dipimpin Adolphe dikerahkan ke sejumlah titik penyebaran untuk menggali kuburan, menyiapkan jenazah, hingga memastikan pemakaman berjalan aman. Mereka menerima penghasilan sekitar US$20 alias Rp352.000 per hari dan menjadi bagian dari pekerja garis depan nan berupaya menghentikan penularan.

Namun, tugas tersebut membikin mereka berhadapan langsung dengan family korban nan tengah berduka. Jenazah pasien Ebola kudu ditangani petugas terlatih lantaran virus tetap dapat aktif setelah kematian, sehingga family tidak bebas menyentuh alias melakukan seluruh ritual pemakaman sesuai tradisi mereka.

"Biasanya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga, nan kemudian dapat mengurusnya sesuai kemauan mereka dan budaya istiadat Afrika kita," kata Adolphe menyebut larangan menjalankan sejumlah ritual menjadi sumber kesalahpahaman dan memicu kemarahan terhadap petugas.

Sejak Mei, petugas kesehatan dan tim pemakaman dilaporkan beberapa kali menghadapi serangan dari family korban di wilayah pusat wabah. Penasihat gubernur militer Ituri untuk urusan kesehatan dan kemanusiaan, Jeanne Alasha, menegaskan bahwa tindakan menyerang petugas dapat dikenai hukuman hukum.

Kemarahan penduduk tercermin dalam pemakaman Justine Habineno, personil paduan bunyi berumur 36 tahun nan meninggal akibat Ebola. Ibunya, Sofia Wanito, mengaku hanya diperbolehkan memandang jenazah dari jendela rumah sakit dan tidak dapat menyentuh peti mati.

"Dulu, kami tidak meninggal seperti ini. Saya apalagi tidak bisa menyelimutinya sendiri dan memberikan penghormatan terakhir," ujarnya.

Di tengah bentrok bersenjata, pengungsian, lemahnya sistem kesehatan, dan pergerakan masyarakat nan tinggi, pengendalian pandemi semakin sulit. Anggota tim pemakaman lainnya, Benjamin Muhindo, mengatakan keluarganya cemas dirinya membawa virus ke rumah, tetapi dia tetap menjalankan tugas.

"Kami bekerja di bawah tekanan dan terus-menerus berpacu dengan waktu," katanya.

"Kami tidak punya pilihan. Kami datang di sini untuk melindungi masyarakat kami," tambahnya lagi.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News