Viral Penampakan Matahari Merah di Medan, BMKG Beri Penjelasan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi matahari. Foto: Japan OUT/AFP

Fenomena mentari berwarna merah tampak di Kota Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (6/9). Fenomena itu pun viral di media sosial.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, mengatakan kejadian mentari berwarna merah itu berjalan pada pukul 17.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB.

Hendro mengatakan berasas hasil pemeriksaan, Particulate Matter (PM2.5) alias polusi udara tidak menunjukkan adanya abu vulkanik gunung ataupun pembakaran hutan. Melainkan, adanya polutan nan tersebar di wilayah Kota Medan.

"Dari PM2.5 itu tidak menunjukkan adanya abu vulkanik alias pembakaran itu. Nah, dimungkinkan ini adalah lantaran polutan," kata Hendro, saat dihubungi wartawan, Senin (7/9).

Menurutnya, berasas info dari Campbell Stokes alias perangkat pengukur lamanya waktu penyinaran matahari, terjadi pembakaran sempurna, ialah kertas nan menggambarkan penyinaran matahari.

"Jadi, sinar mentari itu sampai ke bumi. Nah itu terfilter oleh polutan tadi, sehingga warna merah saja nan sampai ke mata kita. Itu kan ada mentari panjang gelombangnya. Nah, panjang gelombang nan lainnya itu disebarkan alias dibaurkan alias diserap gitu oleh polutan-polutan tadi," ujar Hendro.

Hendro menambahkan, pada hari ini, polutan tersebut telah bersih dikarenakan hujan nan terjadi, sehingga membersihkan atmosfer.

Sementara itu, Forecaster on Duty BBMKG Wilayah I, Ilham Haris Batubara, menyebut kejadian mentari berwarna merah itu dikarenakan partikel di atmosfer seperti aerosol, debu, maupun asap nan memengaruhi proses perambatan sinar matahari.

"Partikel-partikel tersebut menyebabkan sinar biru lebih banyak dihamburkan, sehingga sinar nan sampai ke mata kita lebih didominasi warna merah alias jingga. Efeknya bakal semakin terlihat ketika posisi mentari tetap rendah, seperti pada pagi alias sore hari," ujar Ilham.

Ilham mengatakan, kejadian nan terjadi di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan, diduga adanya aerosol (partikel mini di udara) di atmosfer nan menyebabkan warna merah pada matahari.

"Berdasarkan kondisi atmosfer terpantau cuaca haze (udara kabur) nan terjadi di Medan dan sekitarnya pada sore hingga malam hari," ucap Ilham.

"Jadi, kejadian mentari tampak merah nan terlihat masyarakat Medan kemarin pada dasarnya merupakan pengaruh optik atmosfer. Bukan berfaedah mataharinya berubah warna, tetapi sinar mentari mengalami proses sebaran dan penyaringan oleh kondisi atmosfer sebelum sempai ke mata penghilat," sambung Ilham.

BMKG mengimbau agar masyarakat tidak panik dan tetap memperhatikan kualitas udara di sekitar lingkungan.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan