Viral Dulu, Benar Belakangan: Kebiasaan yang Perlu Kita Ubah di Media Sosial

Sedang Trending 1 hari yang lalu

"Maraknya penyebaran hoaks di media sosial menunjukkan bahwa budaya verifikasi info tetap menjadi tantangan di era digital."

Belakangan ini, nyaris setiap minggu ada saja info nan viral di media sosial. Mulai dari potongan video, tangkapan layar percakapan, hingga foto nan dibagikan ribuan kali dalam waktu singkat.

Sayangnya, tidak sedikit dari info tersebut nan kemudian diklarifikasi lantaran konteksnya tidak lengkap, apalagi ada nan terbukti hoaks. Namun, ketika penjelasan muncul, perhatian masyarakat biasanya sudah telanjur beranjak ke rumor berikutnya.

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Vasin Lee/Shutterstock

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kecepatan penyebaran info di media sosial sering kali lebih unggul daripada proses mencari kebenaran. Banyak orang langsung percaya dan membagikan sebuah unggahan hanya lantaran sedang ramai diperbincangkan. Padahal, belum tentu info tersebut berasal dari sumber nan dapat dipercaya.

Media sosial memang memberikan banyak kemudahan. Kita bisa mendapatkan info terbaru hanya dalam hitungan detik, mengikuti beragam peristiwa nan terjadi di beragam daerah, apalagi menyampaikan pendapat secara bebas. Namun, di kembali semua kemudahan itu, muncul kebiasaan nan patut menjadi perhatian, ialah membagikan info tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Menurut saya, persoalan ini bukan terletak pada media sosialnya, tetapi pada kebiasaan kita sebagai pengguna. Keinginan untuk menjadi nan pertama membagikan info sering kali lebih besar daripada kemauan untuk memastikan apakah info tersebut benar.

Padahal, hanya dengan meluangkan beberapa menit untuk mengecek sumber buletin alias mencari info pembanding dari media lain nan kredibel, kita sudah bisa mengurangi akibat menyebarkan info nan keliru.

Selain itu, langkah kerja algoritma media sosial juga ikut memengaruhi penyebaran informasi. Konten nan memancing emosi, rasa penasaran, alias kontroversi biasanya lebih mudah menarik perhatian pengguna. Semakin tinggi hubungan pada sebuah unggahan, semakin luas pula jangkauannya. Akibatnya, info nan belum tentu betul justru dapat menyebar lebih sigap daripada klarifikasinya.

Dampak dari kebiasaan tersebut tentu tidak bisa dianggap sepele. Hoaks dapat menimbulkan kesalahpahaman, merusak reputasi seseorang, hingga memicu bentrok di tengah masyarakat.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) juga tetap menemukan beragam hoaks nan beredar setiap tahunnya dengan tema nan beragam, mulai dari politik, kesehatan, hingga penipuan digital. Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital tetap menjadi tantangan nan perlu terus diperkuat.

Sebagai mahasiswa, saya memandang bahwa keahlian berpikir kritis merupakan salah satu keahlian nan wajib dimiliki di era digital.

Kita tidak bisa lagi hanya menjadi pengguna media sosial nan menerima semua info begitu saja. Membaca info secara utuh, mengecek sumbernya, dan tidak terburu-buru menekan tombol "bagikan" merupakan langkah sederhana nan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah musuh. Platform digital hanyalah sarana untuk menyebarkan informasi. nan menentukan apakah info tersebut membawa faedah alias justru menimbulkan akibat negatif adalah langkah kita menggunakannya.

Di tengah derasnya arus info saat ini, mungkin sudah waktunya kita mengubah kebiasaan dari "viral dulu" menjadi "cek kebenaran dulu". Sebab, menjadi nan paling sigap bukanlah sebuah prestasi jika info nan kita sebarkan rupanya tidak benar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan