Peran Ayah dalam Membentuk Empati Anak: Apa Kata Penelitian Psikologi?

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Ilustrasi ayah dan anak main sepeda. Foto: Shutterstock

Seorang anak memandang temannya terjatuh lampau segera menghampiri untuk membantu. Anak lain mungkin hanya memperhatikan tanpa bereaksi. Mengapa respons mereka berbeda? Salah satu jawabannya terletak pada empati, ialah keahlian memahami dan merespons emosi orang lain.

Dalam psikologi, empati merupakan bagian dari kognisi sosial (social cognition), ialah keahlian memahami pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Kognisi sosial mencakup keahlian memahami emosi dan perspektif pandang orang lain (perspective taking), serta memahami beragam situasi sosial.

Kemampuan kognisi sosial ini membantu anak untuk menyesuaikan perilaku dengan beragam situasi sosial. Sebagai contoh, anak memandang temannya terjatuh dan menangis.

Anak tersebut memahami bahwa temannya sedang kesakitan alias sedih (memahami emosi orang lain), lampau berpikir bahwa temannya memerlukan bantuan. Setelah itu, dia menghampiri temannya, membantu berdiri, serta memanggil guru.

Dalam contoh di atas, proses kognisi sosial meliputi: 1) Mengenali isyarat sosial: kawan terjatuh dan menangis. 2) Memahami emosi orang lain: menyimpulkan bahwa temannya merasa sakit. 3) Mengambil perspektif: membayangkan gimana emosi temannya jika berada dalam situasi tersebut. 4) Menentukan respons nan tepat: membantu kawan alias mencari support dari guru.

Kognisi sosial alias empati sangat krusial lantaran berkorelasi dengan keberhasilan anak dalam menjalin hubungan sosial. Anak nan mempunyai empati umumnya lebih mudah berkawan dan diterima oleh lingkungan, bisa bekerja sama, dan lebih sedikit terlibat dalam konflik.

Sebaliknya, kesulitan memahami emosi orang lain dapat meningkatkan akibat munculnya perilaku garang alias masalah penyesuaian sosial. Karena itu, empati bukan sekadar "sifat baik", tetapi kompetensi sosial nan bakal terus dibutuhkan hingga dewasa.

Empati berkembang secara berjenjang seiring dengan kematangan kegunaan otak dan pengalaman anak. Pada tahun pertama kehidupan, bayi mulai bisa mengenali ekspresi wajah dan menunjukkan emotional contagion, misalnya ikut menangis ketika mendengar bayi lain menangis.

Memasuki dua tahun, anak mulai menyadari bahwa orang lain mempunyai kemauan nan berbeda dengan dirinya. Selanjutnya, perkembangan bahasa nan semakin baik pada usia tiga sampai empat tahun membantu anak mengenali dan membicarakan emosi.

Anak juga mulai memahami bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran, perasaan, pengetahuan dan kepercayaan nan berbeda dengan dirinya. Kemampuan ini dikenal sebagai Theory of Mind dan menjadi dasar bagi keahlian empati.

Pada usia sekitar lima hingga tujuh tahun, anak semakin bisa mengambil perspektif orang lain, memahami penyebab suatu emosi, menyesuaikan perilaku alias responsnya terhadap situasi sosial, dan menilai akibat perilakunya terhadap orang lain.

Perkembangan kognisi sosial dan empati tidak hanya ditentukan oleh aspek biologis dan kematangan kegunaan otak semata. Faktor lingkungan juga memberikan kontribusi nan besar.

Pengalaman berbareng saudara, kawan sebaya, dan terutama orang tua menjadi sarana bagi anak untuk belajar mengenali emosi, menyelesaikan konflik, dan memahami akibat perilakunya terhadap orang lain.

Di antara beragam aspek lingkungan, pengasuhan merupakan salah satu aspek nan berkedudukan krusial dalam perkembangan kognisi sosial anak. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pengasuhan otoritatif, nan mengedepankan kehangatan, komunikasi dua arah, serta perbincangan dan obrolan antara orang tua dan anak, berkorelasi positif dengan keahlian kognisi sosial.

Pola pengasuhan ini menciptakan lingkungan nan mendukung anak untuk memahami perspektif orang lain, mengenali emosi, serta mengembangkan keahlian mengambil keputusan dalam beragam situasi sosial.

Secara ilmiah, hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Orang tua dengan pola pengasuhan otoritatif tidak hanya menetapkan aturan, tetapi juga menjelaskan argumen di kembali patokan tersebut serta memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat.

Melalui proses ini, anak belajar bahwa setiap perseorangan mempunyai pikiran, perasaan, keyakinan, dan perspektif pandang nan dapat berbeda dari dirinya. Selain itu, hubungan nan hangat dan responsif terhadap kebutuhan emosional anak membantu anak mengenali, memahami, dan memberi makna terhadap emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain.

Kemampuan memahami emosi ini menjadi dasar bagi anak untuk memahami isyarat sosial secara lebih akurat, memahami perspektif orang lain, serta memberikan respons nan sesuai dalam hubungan sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan otoritatif nan diterapkan oleh ibu berasosiasi positif dengan perkembangan keahlian kognisi sosial dan empati anak. Melalui kehangatan, responsivitas, serta komunikasi nan terbuka, ibu memberikan lingkungan hubungan nan membantu anak memahami emosi, perspektif, dan kondisi mental orang lain.

Namun, penelitian nan menganalisis kontribusi pengasuhan ibu dan ayah secara terpisah menunjukkan bahwa ketika ayah juga menerapkan pola asuh otoritatif, hubungan positif antara pengasuhan dan perkembangan kognisi sosial anak menjadi lebih kuat dibandingkan ketika hanya ibu nan menerapkannya.

Peran ayah dalam pengasuhan tidak semata-mata diukur dari lamanya waktu berbareng anak, melainkan dari kualitas hubungan nan terjalin. Ayah nan hangat, responsif, dan terlibat dalam kehidupan sehari-hari memberi anak kesempatan untuk belajar memahami emosi.

Meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, memberikan perhatian penuh, dan merespons kebutuhannya dengan hangat bakal membantu anak merasa kondusif secara emosional. Rasa kondusif inilah nan menjadi fondasi bagi berkembangnya empati. Ketika ayah mendengarkan anak, membantu menamai perasaannya, alias membujuk anak memikirkan gimana emosi orang lain, anak sedang belajar mengambil perspektif orang lain—salah satu komponen utama empati.

Ilustrasi: https://elements.envato.com/

Selain menerapkan pola asuh nan hangat dan responsif, ayah dapat mendukung perkembangan kognisi sosial anak melalui penggunaan mental state language dalam hubungan sehari-hari. Mental state language merupakan penggunaan bahasa nan merujuk pada keadaan mental internal, seperti pikiran, emosi, dan keinginan. Dalam praktiknya, ayah dapat membujuk anak mendiskusikan emosi dan pikiran nan muncul dalam beragam situasi, misalnya dengan bertanya, "Menurutmu, kenapa temanmu sedih?", "Apa nan Anda pikirkan mengenai kejadian tadi?"; alias "Mengapa adik mau mainan itu?" Ayah juga dapat membantu anak memberi label pada emosinya, menjelaskan argumen di kembali suatu perasaan, serta membujuk anak mempertimbangkan perspektif pandang orang lain ketika menghadapi bentrok alias berinteraksi dengan kawan sebaya. Interaksi seperti ini memberikan kesempatan bagi anak untuk memahami bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan kemauan nan mungkin berbeda dengan dirinya. Dengan demikian, penggunaan mental state language oleh ayah menjadi sarana nan efektif untuk melatih keahlian mengenali keadaan mental orang lain, mengambil perspektif (perspective taking), dan mengembangkan empati sebagai komponen utama kognisi sosial.

Kesimpulannya, empati bukanlah keahlian nan berkembang secara otomatis, melainkan hasil dari proses belajar nan berjalan melalui ribuan hubungan sehari-hari antara anak dan orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah nan hangat, responsif, dan aktif dalam pengasuhan berkontribusi terhadap perkembangan empati dan kognisi sosial anak. Melalui komunikasi nan terbuka, kepekaan terhadap kebutuhan emosional anak, serta hubungan nan mendorong anak memahami pikiran dan emosi orang lain, ayah membantu membentuk keahlian anak untuk mengenali perspektif, menghargai perbedaan, dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak hanya memperkuat kualitas hubungan ayah dan anak, tetapi juga menjadi fondasi krusial bagi perkembangan kompetensi sosial-emosional nan bakal mendukung keberhasilan anak dalam menjalin hubungan interpersonal sepanjang kehidupannya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan