Vaksin Kanker mRNA Mulai Diuji Coba untuk Penderita Sindrom Lynch

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Vaksin Kanker mRNA Mulai Diuji Coba untuk Penderita Sindrom Lynch Ilustrasi.(Magnific)

PARA ilmuwan tengah mengembangkan vaksin revolusioner nan berpotensi mencegah perkembangan kanker usus dan ovarium pada golongan orang tertentu. Uji coba klinis dijadwalkan bakal dimulai musim panas ini untuk menilai apakah suntikan tersebut dapat melatih sistem kekebalan tubuh dalam mengenali dan memusnahkan sel-sel pra-kanker.

Fokus utama penelitian ini adalah perseorangan dengan Sindrom Lynch, kondisi genetik turunan nan meningkatkan akibat kanker usus hingga 80 persen. Di Inggris, diperkirakan terdapat 175.000 orang nan menderita sindrom ini, tetapi hanya sekitar 5 persen nan menyadari kondisi mereka.

Cara Kerja Vaksin mRNA-4194

Vaksin nan diberi kode mRNA-4194 ini merupakan hasil kerjasama antara Universitas Oxford dan perusahaan bioteknologi Moderna, dengan support dari Cancer Research UK. Berbeda dengan vaksin tradisional, teknologi mRNA ini bekerja layaknya kitab instruksi bagi tubuh.

Profesor David Church, peneliti utama dari Universitas Oxford, menjelaskan bahwa vaksin ini dirancang untuk membikin mutasi sel pra-kanker menjadi terlihat oleh sistem imun. Dengan stimulasi nan tepat, sistem kekebalan tubuh diharapkan dapat menyerang sel abnormal tersebut sebelum berkembang menjadi tumor ganas.

Tahapan Uji Coba:

  • Fase Awal (2026): Menganalisis respons imun, menentukan dosis optimal, dan memastikan keamanan suntikan.
  • Fase Kedua (2027): Melibatkan lebih banyak pusat penelitian di seluruh Inggris untuk menguji efektivitas jangka panjang.

Mengenal Sindrom Lynch

Sindrom Lynch, alias nan juga dikenal sebagai hereditary non-polyposis colorectal cancer (HNPCC), disebabkan oleh perubahan pada gen perbaikan ketidakcocokan (mismatch repair gene). Pengidapnya sering kali tidak menunjukkan indikasi awal apa pun.

Selain kanker usus, sindrom ini juga dikaitkan dengan akibat tinggi pada jenis kanker lain, termasuk:

  • Kanker rahim dan ovarium.
  • Kanker lambung dan pankreas.
  • Kanker ginjal dan kulit.

Para mahir menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kebiasaan buang air besar, terutama bagi mereka nan mempunyai riwayat family dengan kanker di bawah usia 50 tahun. Gejala seperti ada darah pada tinja, perubahan kebiasaan buang air besar lebih dari enam minggu, hingga penurunan berat badan nan tidak dapat dijelaskan, kudu segera dikonsultasikan dengan tenaga medis.

Harapan Baru Pencegahan Kanker

David Berman, Chief Development Officer di Moderna, menyatakan bahwa penerapan teknologi mRNA di awal perjalanan pasien bermaksud untuk memanfaatkan sistem imun saat dampaknya paling besar. Jika terbukti sukses pada Sindrom Lynch, prinsip melatih sistem imun untuk mengenali perubahan mengenai kanker ini dapat memberikan wawasan luas bagi pencegahan jenis kanker lainnya di masa depan. (Daily Mail/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia