Utang AS Sentuh USD 40 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Presiden AS Donald Trump berbincang di sebuah rapat umum Hari Kemerdekaan, menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS

Utang nasional bruto Amerika Serikat (AS) telah melonjak melampaui nomor USD 40 triliun untuk pertama kalinya. Angka itu berasas info pemerintah pada hari Rabu (19/8), nan sebagian dipicu oleh kebijakan tarif Presiden Donald Trump meski sekarang telah dibatalkan.

Dikutip dari AFP, peningkatan jumlah pinjaman ini terjadi di tengah membengkaknya tanggungjawab jangka panjang AS nan mengenai dengan agunan sosial dan jasa kesehatan, serta meningkatnya beban pembayaran bunga.

Total utang publik nan beredar tercatat sebesar USD 40,05 triliun pada penutupan hari kerja Selasa, menurut info nan dirilis pada hari Rabu oleh Departemen Keuangan AS. Angka ini berbeda dengan perkiraan awal dari Congressional Budget Office (CBO) nan memproyeksikan total pinjaman bakal mencapai USD 39,4 triliun pada akhir tahun fiskal 2026.

Meningkatnya utang AS terjadi di tengah kekhawatiran penanammodal mengenai inflasi, perang di Timur Tengah, dan shopping pemerintah, serta meningkatnya biaya pinjaman.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS jangka panjang naik pada hari Selasa ke tingkat tertinggi sejak tahun 2007, mencerminkan meningkatnya tekanan nilai akibat perang nan melibatkan Iran hingga kekhawatiran mengenai shopping defisit AS.

Kenaikan utang itu memaksa Pemerintah AS untuk melakukan pembiayaan kembali utang dengan tingkat suku kembang tertinggi sejak sebelum krisis finansial dunia tahun 2008. Namun, Departemen Keuangan AS mengambil langkah untuk menstabilkan pasar obligasi jangka panjang pada Rabu pagi, nan menyebabkan penurunan imbal hasil (yield).

Pemerintah AS beraksi dengan defisit dan meminjam biaya untuk membantu memenuhi kewajibannya, termasuk shopping perang dan pemotongan pajak.

Ilustrasi Gedung Putih, Amerika Serikat. Foto: Shutetrstock

"Sudah lama diketahui bahwa pemerintah Amerika Serikat berada pada jalur defisit nan cukup tidak berkelanjutan," ujar Jessica Riedl, seorang peneliti bagian anggaran dan pajak di Brookings Institution.

"Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat telah mencatat defisit sekitar USD 2 triliun, apalagi di masa tenteram dan makmur," tambahnya.

Riedl mengatakan defisit sebesar tiga hingga empat persen dari PDB sebelumnya sempat membikin pasar finansial khawatir. Kini, dia mencatat jika tingkat defisit mendekati enam hingga tujuh persen dari PDB. "Hal itu membikin pasar menjadi lebih cemas," ungkap Riedl.

Seiring inflasi mendorong kenaikan suku bunga, beban kembang utang juga ikut meningkat, dan biaya nan mengenai dengan penuaan populasi turut memperbesar defisit.

Para analis mencatat tidak ada tingkat rasio utang terhadap PDB nan secara otomatis memicu krisis. Meskipun nomor utang bruto menandai periode pemisah nan berkarakter simbolis, banyak ahli ekonomi menganggap utang nan dipegang oleh publik sebagai ukuran nan paling berarti secara ekonomi.

"Namun secara psikologis, angka-angka ini merupakan penanda nan memperingatkan pasar finansial untuk mencermati kembali peningkatan utang tersebut," ujar Riedl.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan