ilustrasi(Antara)
Pemulihan sektor kelautan dan perikanan di Aceh mulai menunjukkan hasil, ditandai dengan panen perdana udang vaname di Pidie Jaya serta beroperasinya kembali sejumlah tambak dan akomodasi produksi garam. Namun, upaya pemulihan tetap kudu menjangkau puluhan ribu pelaku upaya nan terdampak bencana.
Data Satuan Tugas Pemulihan dan Rekonstruksi (PRR) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, sebanyak 29.781 pelaku upaya kelautan dan perikanan terdampak musibah di Aceh. Jumlah tersebut terdiri atas 23.414 pembudidaya ikan, 4.809 nelayan, 1.450 petambak garam, serta 108 unit upaya pengolahan hasil perikanan.
Kepala Posko Wilayah (Kaposwil) Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, mengatakan pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan aktivitas produksi dan pendapatan masyarakat.
"Berbagai capaian nan telah terwujud menunjukkan proses pemulihan di Aceh melangkah positif dan memberikan angan baru bagi masyarakat terdampak," ujar Safrizal, Rabu (21/10).
Tambak dan Produksi Garam Mulai Beroperasi
Salah satu perkembangan pemulihan terjadi di Kabupaten Pidie Jaya. Pada 19 Oktober 2026, pembudidaya setempat melaksanakan panen perdana udang vaname dari tambak nan direhabilitasi melalui program KKP.
Selain itu, KKP berbareng Satgas PRR dan pemerintah wilayah mulai mengoperasikan kembali area tambak produktif di sejumlah wilayah. Pengoperasian tersebut mencakup lahan seluas 300 hektare di Gampong Sungai Pauh Pusaka, Kota Langsa, serta tambak udang seluas 120 hektare di Kabupaten Aceh Timur.
Di sektor pergaraman rakyat, sebanyak 15 dari sasaran 506 unit rumah perebusan garam telah beraksi penuh di Kabupaten Bireuen dan melaksanakan perebusan garam perdana. Sebanyak 491 unit lainnya tetap dalam tahap bangunan dan ditargetkan beraksi pada Desember 2026.
Untuk mendukung normalisasi tambak, KKP juga mendistribusikan delapan unit ekskavator PC-135 ke delapan kabupaten/kota di Aceh. Alat berat tersebut ditempatkan di Aceh Utara, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Aceh Barat, Bireuen, Aceh Timur, dan Kota Langsa. Distribusi itu merupakan bagian dari support 12 unit ekskavator untuk tiga provinsi terdampak di Sumatera.
Pemerintah turut menyalurkan mesin dan kapal penangkap ikan, perangkat tangkap, 75 paket peralatan pengolahan hasil perikanan, serta 500 unit kotak pendingin alias coolbox. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung aktivitas upaya masyarakat pesisir.
Pemulihan Dilanjutkan hingga 2027
Dalam Rencana Aksi PRR KKP, pemulihan sektor kelautan dan perikanan Aceh dirancang berjalan secara bertahap. Pada 2026, pemerintah menargetkan pengoperasian kembali 15.111 hektare tambak dan kolam budidaya serta 950 unit keramba.
Program tersebut bakal dilanjutkan pada 2027 melalui rehabilitasi 18.695 hektare tambak, penyaluran perangkat tangkap dan sarana upaya perikanan, serta penambahan rumah perebusan garam hingga mencapai 944 unit. Safrizal menegaskan, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi aspek krusial dalam pemulihan sektor tersebut.
"Kami optimistis beragam program rehabilitasi dan rekonstruksi nan dilaksanakan secara berjenjang dapat mengembalikan mata pencaharian masyarakat pesisir sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Pemulihan ini tidak hanya bermaksud mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga membangun sektor kelautan dan perikanan nan lebih produktif, tangguh, dan berkepanjangan di masa mendatang," pungkas Safrizal, nan juga menjabat sebagai Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·