Upaya pemadaman karhutla di Jambi.(Dok. Antara)
KEBAKARAN rimba dan lahan (karhutla) tetap menjadi ancaman di Kalimantan. BNPB mencatat puluhan titik api terpantau di sejumlah provinsi dan kondisi udara juga masuk dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, kondisi karhutla tetap menjadi perhatian serius, terutama di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Di Kalimantan Selatan, BNPB memantau 13 titik panas dengan kualitas udara secara umum berada pada kategori sedang hingga berbahaya. Jarak pandang di sejumlah wilayah apalagi berada di bawah tiga kilometer.
"Pemadaman tetap dilaksanakan melalui Satgas Darat maupun Satgas Udara. Kami juga mengimbau masyarakat menggunakan masker, terutama andaikan beraktivitas di luar rumah," kata Berton dalam konvensi pers di Jakarta, Selasa (1/9).
Penanganan di darat telah dilakukan di 10 kabupaten/kota, antara lain Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balangan, serta Kota Banjarbaru. Dari operasi tersebut, Satgas Darat sukses memadamkan karhutla dengan luas lebih dari 29 hektare.
Sementara melalui Satgas Udara, dua helikopter dikerahkan untuk patroli dengan total 65 sorti. Untuk operasi water bombing, lima unit helikopter telah melakukan 11 sorti dengan total 1,328 juta liter air nan dijatuhkan. Operasi tersebut sukses memadamkan area seluas lebih dari 60 hektare.
BNPB juga mengoptimalkan penggunaan kamera thermal untuk mendeteksi titik api nan tetap menyala, termasuk bara api nan berada di bawah permukaan tanah.
Hambatan OMC
Menurut Berton, operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Selatan belum dapat dilakukan lantaran kondisi atmosfer belum mendukung. Tidak terdapat titik-titik awan nan memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.
"Cuaca tetap mendukung potensi munculnya fire spot baru lantaran sebagian besar wilayah berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar," ujarnya.
BNPB juga menyiapkan strategi operasi multiple water bombing alias OMSI dengan mengerahkan dua hingga tiga unit helikopter water bombing secara berbarengan pada satu letak kebakaran. Strategi tersebut diprioritaskan untuk wilayah Ring 1, terutama area sekitar airport dan permukiman.
Selanjutnya, di Kalimantan Tengah, BNPB memantau 63 titik api. Kondisi kualitas udara secara umum berada pada kategori sangat tidak sehat dengan jarak pandang sekitar dua kilometer.
Meskipun demikian, aktivitas belajar-mengajar dan aktivitas masyarakat tetap melangkah normal. Pemantauan kondisi udara terus dilakukan untuk menentukan langkah penanganan nan diperlukan.
Satgas Darat telah melakukan pemadaman di 13 kabupaten/kota, ialah Palangka Raya, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Kapuas, Barito Utara, Pulang Pisau, Lamandau, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Murung Raya, Gunung Mas, dan Barito Timur.
Dari operasi tersebut, area karhutla nan sukses dipadamkan mencapai lebih dari 87 hektare.
Sementara itu, Satgas Udara mengoperasikan empat unit helikopter water bombing. Sebanyak empat sorti telah dilakukan dengan total sekitar 188 ribu liter air nan dijatuhkan dari udara.
BNPB juga melaksanakan OMC satu sorti di wilayah Kotawaringin Timur bagian selatan dengan menebarkan 800 kilogram bahan semai. Namun, upaya tersebut belum optimal lantaran susah mendapatkan hujan.
Berton menjelaskan, operasi udara di Kalimantan Tengah juga menghadapi hambatan rendahnya jarak pandang. Selain itu, karakter lahan gambut nan terbakar membikin proses pemadaman memerlukan pendinginan berulang.
"Karakteristik gambut nan terbakar, ditambah angin nan kencang, menyebabkan api mudah menyebar. Kondisi ini memerlukan pendinginan nan berkali-kali sehingga memerlukan air dalam jumlah banyak," jelasnya.
Prioritas di Palangka Raya
Saat ini, pengerahan personel dan peralatan Satgas Darat diprioritaskan untuk menangani 23 letak nan tetap belum padam di Palangka Raya. Prioritas penanganan juga diarahkan ke wilayah Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kapuas.
Sementara di Kalimantan Barat, BNPB memonitor 30 titik api dengan kualitas udara di sejumlah wilayah berada pada kategori berbahaya. Jarak pandang dilaporkan kurang dari satu kilometer.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan terdapat potensi hujan dengan intensitas sporadis di sebagian wilayah Kalimantan Barat pada 1–7 September 2026.
"Kami bakal mengoptimalkan potensi hujan nan ada melalui operasi modifikasi cuaca. Mudah-mudahan kelak ada rekomendasi dari BMKG untuk melakukan operasi udara nan lebih intensif," ucap Berton.
Pemadaman oleh Satgas Darat dilakukan di 10 kabupaten, ialah Kubu Raya, Bengkayang, Mempawah, Kayong Utara, Sintang, Sekadau, Kapuas Hulu, Landak, Ketapang, dan Sambas, serta Kota Singkawang. Luas area nan sukses dipadamkan melalui operasi darat mencapai lebih dari 262 hektare.
Untuk mendukung operasi tersebut, tiga unit helikopter digunakan untuk patroli udara guna mendeteksi titik api baru maupun letak nan tetap belum padam. Informasi dari patroli udara kemudian diteruskan kepada tim di darat untuk menentukan letak pemadaman.
Selain patroli, operasi water bombing dilakukan menggunakan lima unit helikopter. Total 724 ribu liter air telah dijatuhkan untuk memadamkan karhutla dengan luas sekitar 11 hektare. OMC juga telah dilakukan satu kali dengan menebarkan 1,6 ton garam.
Berton menegaskan, kondisi karhutla di Kalimantan Barat tetap memerlukan perhatian serius. Operasi darat dan udara terus dilakukan secara terpadu, meski menghadapi beragam kendala.
"Operasi tetap menghadapi hambatan berupa daya lihat alias visibilitas nan rendah, lahan gambut nan susah dipadamkan, serta keterbatasan sumber air," katanya.
Selain penanganan pemadaman, upaya penegakan norma terhadap pelaku pembakaran dan korporasi juga terus dilakukan. Langkah tersebut mencakup pengawasan kepatuhan korporasi, penyegelan letak lahan terbakar, penerapan hukuman administratif, hingga pertimbangan dan ancaman pencabutan izin upaya bagi pelaku pelanggaran.
BNPB memastikan penanganan karhutla bakal terus dilakukan secara terpadu dengan mengoptimalkan kekuatan personel, peralatan darat, operasi udara, pemantauan titik panas, serta support modifikasi cuaca sesuai kondisi atmosfer. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·