Korban gempa luar biasa nan mengguncang Venezuela terus bertambah. Sehari setelah dua gempa besar mengguncang negara itu, Kamis (25/6), ribuan orang menjadi korban jiwa, sementara ratusan lainnya tetap terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Gempa berkekuatan 7,2 magnitudo mengguncang wilayah sekitar 160 kilometer di barat Caracas pada Rabu (24/6) malam waktu setempat. Kurang dari satu menit kemudian, gempa susulan berkekuatan 7,5 magnitudo kembali mengguncang area nan sama, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
USGS memperkirakan musibah tersebut berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah sangat besar. Berdasarkan pemodelan awal lembaga itu, jumlah korban diperkirakan dapat mencapai ribuan hingga lebih dari 10.000 orang.
Hingga Kamis siang waktu setempat, pemerintah Venezuela menyatakan sedikitnya 188 orang meninggal dunia, 1.520 orang terluka, dan sekitar 200 orang tetap terjebak di reruntuhan bangunan.
Selain itu, sekitar 250 gedung dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga ambruk.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mengatakan wilayah La Guaira nan berada di dekat Caracas menjadi wilayah dengan akibat paling parah.
"La Guaira telah menjadi area bencana," kata Rodriguez dikutip dari Reuters, Jumat (26/6).
Pemerintah, lanjut dia, telah mengerahkan perangkat berat berbareng sejumlah perusahaan untuk mempercepat proses pencarian dan pengamanan korban.
Warga Keluhkan Lambatnya Bantuan
Di sejumlah wilayah terdampak, tim penyelamat bekerja sepanjang malam menyisir puing-puing bangunan. Namun di beberapa letak lain, penduduk mengaku support tetap sangat minim.
Seorang penduduk La Guaira, Yamileth Jimenez, mengatakan putranya nan berumur 19 tahun diyakini tetap terjebak di bawah reruntuhan apartemen tujuh lantai tempat mereka tinggal.
"Anak saya tetap berada di bawah reruntuhan dan belum ada perangkat berat untuk mengeluarkannya," ujar Jimenez.
Ia mengaku musibah tersebut datang hanya beberapa hari setelah ayahnya meninggal dunia.
Sementara itu, penduduk lainnya, Pedro Perez (64), mengatakan rumah sekaligus tempat usahanya hancur akibat gempa. Ia sekarang terpaksa memperkuat di jalan berbareng istri dan anak-anaknya.
"Kami kehilangan semuanya. Tidak ada makanan maupun obat-obatan. Kami hanya berambisi support segera datang," katanya.
Reuters juga melaporkan terjadi tindakan penjarahan di dua toko di La Guaira saat penduduk berupaya mencari makanan dan air bersih.
Bandara utama Caracas nan berada di wilayah tersebut turut ditutup setelah mengalami kerusakan akibat gempa.
Kepanikan di Caracas
Saat gempa terjadi, banyak penduduk tetap berada di rumah lantaran Venezuela sedang memperingati hari libur nasional.
Getaran kuat membikin penduduk berceceran keluar rumah dan gedung-gedung bertingkat.
"Begitu kami sukses turun, pemandangannya seperti movie horor. Kami kudu melewati puing-puing bangunan. Dari gedung sebelah, saya hanya memandang satu family nan sukses keluar," kata penduduk Caracas, Maria Alejandra.
Di Caracas bagian selatan, seorang pensiunan berumur 80 tahun, Maria Romero, mengatakan polisi membantu mengevakuasinya dari apartemen.
"Gempa ini mengerikan, apalagi lebih jelek daripada gempa tahun 1967," ujarnya.
Di kota Morón, nan berada dekat pusat gempa di negara bagian Carabobo, sejumlah rumah juga dilaporkan roboh. Wali Kota Emily Riera mengatakan sedikitnya delapan orang meninggal bumi di wilayah tersebut, termasuk tiga anak.
Selain korban jiwa, pasokan listrik dan air bersih di sejumlah area tetap terputus.
Puluhan Ribu Orang Dilaporkan Hilang
Sebuah situs pencarian korban lenyap nan dibagikan golongan oposisi Venezuela mencatat lebih dari 35 ribu laporan orang lenyap hingga Kamis siang waktu setempat. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi seluruh laporan tersebut.
USGS menyebut gempa berkekuatan 7,5 tersebut menjadi nan terkuat di Venezuela sejak 1900.
Venezuela memang berada di area pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan nan aktif secara tektonik. Salah satu gempa paling mematikan di negara itu terjadi pada 1812 dan menewaskan sekitar 30 ribu orang.
Bantuan Internasional Mulai Berdatangan
Sejumlah negara menyampaikan belasungkawa dan menawarkan support kepada Venezuela.
Presiden sementara Delcy Rodriguez mengatakan tim penyelamat dari beragam negara dijadwalkan segera tiba untuk membantu proses evakuasi. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, atas support nan diberikan.
Di beragam negara, organisasi diaspora Venezuela mulai menggalang support kemanusiaan, sementara family korban berupaya mencari berita kerabat mereka nan tetap belum diketahui keberadaannya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·