Upaya Menyatukan Persepsi Budaya Panginyongan Banyumas

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Upaya Menyatukan Persepsi Budaya Panginyongan Banyumas Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026.(MI/Supardji Rasban)

UPAYA untuk memperkuat identitas wilayah alias lokalan banyak dilakukan wilayah di Indonesia. Tujuannya, agar identitas lokalan tetap esksis dan bisa memberi sumbangsih terhadap indentitas ke-Indonesiaan masa kini.

Seperti dilakukan Universitas Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Jawa Tengah, dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026. Diskusi digelar di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 4, Rabu 20 Mei 2026.

Budaya Panginyongan adalah identitas sosial dan karakter masyarakat Banyumasan (Jawa Bagian Barat) nan menjunjung tinggi nilai egaliter, keterbukaan, dan kejujuran. Istilah Panginyongan berasal dari kata inyo, saya alias saya.

Para peserta obrolan diberi kesempatan untuk melihat-lihat Pojok Panginyongan, ialah sebuah ruangan, nan berisi jenis peralatan alias barang nan bercirikan identitas Pangiyongan. Yakni, peralatan alias benda-benda nan original berasal dari wilayah Banyumasan.

Misalnya batik, alat-alat dapur, busana pengantin,  blangkon, keris, wayang dan barang alias peralatan lainnya nan identik dengan Banyumasan. Peserta obrolan pun dengan antusias memperhatikan alias menyimak benda-benda berciri unik Banyumasan ini.

Diskusi nan diinisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto nan berjudul Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026,  digelar Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 4.

PESERTA DISKUSI
Diskusi menghadirkan sastrawan Ahmad Tohari, pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk, seniman Pantura Atmo Tan Sidik dan Ki Gobed Krusharto, Pembina Paguyuban GORAMAS (Gotong Royong Warga Banyumas). Sedangkan pesertanya budayawan, akademisi, serta pegiat budaya dari wilayah Banyumas dan sekitarnya, seperti Kabupaten Purbalingga, Tegal dan Brebes.

Sastrawan sekaligus Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari, menyampaikan, orang Banyumas beratus-ratus tahun hidup dalam bumi pertanian.  “Di dalam bumi pertanian itu rasa hidup gotong royong sangat kuat dan bisa menjadi modal budaya dari Kabupaten banyumas untuk menjaga gotong royong,” ujar Ahmad Tohari.

Menurut Ahmad Tohari,  dalam corak modern gotong royong itu adalah alim kepada semua patokan dan hukum, alim bayar pajak dan tidak membikin kericuHan. “Jadi Itu semua baik untuk kepentingan nasional,” tegas Ahmad Tohari.

Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, menyampaikan, jika obrolan ini untuk menggugah kesadaran berbareng menyamakan persepsi antara budaya Kabupaten Banyumas dan sekitarnya termasuk di wilayah Pantura ialah Kabupaten Brebes dan Kota Tegal. 

“Salah satu contoh translator Alquran dalam bahasa Banyumasan sudah dilakukan. Dalam menyamakan persepsi ini, Kota Tegal juga sudah meniru nan dilakukan di Kabupaten Banyumas ialah sudah melakukan translator Alquran ke dalam Bahasa  Tegalan,” jelas Atmo Tan Sidik.

Ki Gobed Krusharto selaku Pembina Paguyuban GORAMAS (Gotong Royong Warga Banyumas), menyebut, budaya wanita Banyumas nan jika berpakaian menggunakan tapih alias kain dengan rapat, menggambarkan jika wanita memang kudu selalu menaga kehormatan.

“Sedangkan kaum laki-laki di Banyumas nan selalu menenakan ikat (pengikat) kepala alias blangkon, itu menggambarkan konsistensi dalam bersikap terhadap sesuatu nan dinilai  baik di tengah masyarakat. Keduanya, tapih dan ikat kepala alias blangkon, bisa mewarnai mozaik budaya nan ke-Indonesiaan,” ujar Ki Gobed.

LEBIH MENGAKAR
Seniman Banyumas, Era Prima, mengimbau dalam pencarian identitas lokalan semestinya dilakukan dengan lebih mengakar, untuk kemudian disambungkan dengan nan sedang berlangsung. “Sehingga, ada kesinambungan nan pada akhirnya bisa membentuk peradaban sebagai identitas suatu bangsa,” ucap Era Prima.

Rektor UIN Saizi, Ridwan, menyampaikan obrolan dalam rangka menyatukan persepsi tentang budaya Penginyongan itu seperti apa. Meskipun itu tdak mungkin bisa melahirkan konsep tunggal lantaran masing-masing kabupaten punya budaya unik sendiri-sendiri. 

“Paling tidak untuk memetakan mana masing-masing kabupaten nan mempunyai budaya besar alias dominaan nan mungkin bakal sama, kemudian disepakati untuk dijadikan budaya Panginyongan,” jelas Ridwan.

Diskusi berjalan interaktif dengan beragam pertanyaan dan pandangan dari peserta mengenai upaya menjaga eksistensi budaya Banyumasan di era modern. Para peserta juga saling berbagi pengalaman mengenai pengembangan dan pelestarian budaya lokal di kabupaten/ daerag masing-masing. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia