Pentingnya mendokumentasikan kekayaan pangan lokal mengemuka dalam FGD nan digelar Pemkab Sumedang berbareng Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI), Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran(ISTIMEWA)
KABUPATEN Sumedang mempunyai kekayaan pangan, alam dan tradisi nan beragam. Nmun, keberadaannya di sejumlah desa nan ada di wilayah ini terancam lenyap jika tidak didokumentasikan.
Kesadaran untuk mencegahnya dilakukan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI), Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran. Upaya kudu dilakukan untuk mendokumentasikan pengetahuan lisan di Kabupaten Sumedang.
"Keberadaan pengetahuan lisan tentang pangan, alam, dan tradisi di desa-desa Sumedang terancam lenyap jika tidak segera didokumentasikan," ungkap Dosen PSI Fikom Unpad Samson CMS, Kamis (15/10).
Dia mengingatkan bahwa Sumedang berada di area rawan bencana. Di sisi lain konsep pangan darurat nan bertindak tetap identik dengan makanan olahan siap saji.
“Padahal, masyarakat Sunda mempunyai khazanah pangan darurat dari pekarangan dan hutan, seperti humbut, boros, buah-buahan, lalab, dan beuti, ditambah jenis olahan manis dan asin nan tahan lama,” jelasnya.
Pengetahuan ini, lanjut di, juga terekam dalam ritus seperti ngalaksa, bubur suro, seren taun, dan rencana lembur. Namun belum mendapat tempat nan layak dalam regulasi.
Menanggapi perihal ini, Ketua tim Pengabdian kepada Masyarakat Prodi PSI Fikom Unpad, Kusnandar, membujuk penduduk memandang dokumentasi sebagai upaya penyelamatan. nan didokumentasikan adalah pengetahuannya.
Keinginan kuat itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) "Penguatan Literasi Kesehatan, Lingkungan, dan Pengetahuan Lokal Berbasis Komunitas untuk Mendukung Pencapaian SDGs di Kabupaten Sumedang".
MUDAH LENYAP
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) itu digelar oleh Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI), Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran. Kegiatan digelar di Ruang Rapat Tadjimalela, Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumedang, pada Selasa (13/10).
Menurut Kusnandar, pengetahuan nan hanya diwariskan secara lisan mudah lenyap. Oleh lantaran itu, pihaknya menginisiasi langkah sederhana nan bisa dilakukan sendiri ialah mendokumentasikan pengetahuan lokal.
Pengetahuan lokal semacam ini layak menjadi injakan dalam merencanakan pembangunan desa.
“Langkah pendokumentasian dimulai dari menentukan topik, mewawancarai sesepuh alias penduduk nan mengetahui, merekam dengan ponsel, lampau menyusunnya menjadi cerita,” papar Kusandar di hadapan peserta nan berasal dari abdi negara desa, tokoh budaya dan sesepuh, kader PKK, serta perwakilan karang taruna.
Menanggapi perihal itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang, Mohamad Budi Akbar, menekankan bahwa kebudayaan mencakup tradisi leluhur, bukan hanya kesenian. Contoh tradisi nan tetap dijaga penduduk adalah sikap hormat terhadap alam di Cigentong dan tradisi lisan Poyok Ungkal di Desa Ungkal, Ellan Rohelan Nagari.
“Budaya adalah sarana untuk mewariskan etika dan norma,” tegasnya.
Para peserta diskusi mengakui bahwa Sumedang kaya kuliner tradisional tetapi "miskin narasi", sehingga diperlukan narasi nan jeli dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kepala Desa Cimanggung, Asep Anton Hidayat, menyinggung pangan buhun seperti oyek dan gatot nan kerap dipandang sebelah mata. Makanan tersebut kian ditinggalkan lantaran dicap sebagai "makanan orang miskin".
Ia mempertanyakan langkah agar pangan tradisional itu bisa naik kelas.
Menanggapi perihal itu, Kusnandar menilai karakter bentuk, nama, dan rasa dapat menjadi daya jual, tetapi pengetahuannya kudu diselamatkan lebih dulu melalui dokumentasi.
Ia membuka kesempatan kerja sama kajian teknologi pangan dengan Unpad.
PRAKTIK KESEHARIAN
Pada kesempatan nan sama, Ketua Prodi PSI Fikom Unpad Saleha Rodiah menyampaikan bahwa kehadiran tim PSI dalam aktivitas ini bermaksud menghadirkan pengetahuan nan berfaedah dan dapat dipraktikkan penduduk dalam keseharian.
Bagi Prodi PSI Fikom Unpad, pengarsipan tersebut punya dua manfaat, ialah mengangkat nilai pangan lokal dan menjadi rujukan dalam merencanakan pembangunan desa nan berakar pada kearifan setempat.
“Kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat ini menjadi langkah awal untuk mendukung pencapaian SDGs di Kabupaten Sumedang, khususnya di bagian ketahanan pangan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan,” tandas Saleha.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·