Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S Deyang, menyebut program MBG sebagai ruang pembelajaran nyata bagi perguruan tinggi.
“MBG adalah laboratorium bagi kampus. Semua fakultas bisa terlibat dan mengambil peran sesuai bidangnya,” katanya.
Ia menegaskan, program ini dilatarbelakangi tetap adanya masyarakat nan belum mendapatkan akses pangan layak.
“Masih banyak kerabat kita nan belum bisa makan dengan baik. Ini nan menjadi semangat utama program MBG,” ujarnya.
Menurut Nanik, perguruan tinggi diharapkan berkontribusi aktif, termasuk melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), terutama dari bagian kesehatan.
Ia juga mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk BUMN melalui program CSR untuk pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Selain itu, Nanik menilai akomodasi dan laboratorium Unhas dapat berkedudukan dalam mendukung pengawasan keamanan pangan.
“Kami apalagi berambisi laboratorium Unhas bisa membantu pengecekan jika terjadi kejadian menonjol keamanan pangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti akibat ekonomi dari program MBG nan mulai mendorong pertumbuhan industri pendukung.
“Uang bergerak di masyarakat, ini pengaruh ekonomi nan sangat penting,” katanya.
Meski demikian, sejumlah tantangan tetap dihadapi, seperti keterbatasan pasokan bahan pangan dan kekuasaan industri besar dalam penyediaan komoditas tertentu.
“Kami berambisi Unhas menjadi pusat pengembangan produk bahan baku MBG,” ujar Nanik.
Ia menambahkan, kebutuhan sumber daya manusia juga menjadi aspek krusial dalam mendukung program ini.
“Kebutuhan SDM sangat besar, mulai dari pengawas gizi, akuntan, hingga mahir sanitasi lingkungan,” pungkasnya.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·