UMKM Aceh Harus Masuk Rantai Pasok FPSO South Andaman

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
UMKM Aceh Harus Masuk Rantai Pasok FPSO South Andaman Teuku Andika Rama Putra, Dosen Jurusan Teknik Kebumian, FakultasTeknik Pertambangan, USK Banda Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

HARAPAN baru sektor pertambangan migas (minyak dan gas) di area Provinsi Aceh ke depan diperkirakan bakal kembali kian menjanjikan. Potensi luar biasa dari hasil bumi ini diharapkan dapat membangkitkan ekonomi dan memakmurkan masyarakat luas, terutama penduduk lokal. 

Mengapa tidak, proyek Floating Production Storage and Offloading (FPSO) South Andaman diperkirakan mempunyai nilai investasi triliunan rupiah. Itu juga bakal menjadi pusat pengolahan gas alam di perairan Selat Malaka, Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya. 

Proyek strategis nasional ini ditargetkan bakal beraksi hingga lebih dari 20 tahun ke depan. Lalu memerlukan rantai pasok sangat besar dan bakal berkelanjutan.

Karena itu Dosen Teknik Kebumian, Fakultas Teknik Pertambangan dari Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh, Teuku Andika Rama Putra, kepada Media Indonesia, Selasa (23/6) mengatakan, proyek migas raksasa ini, penduduk di provinsi berjulukan Serambi Mekah tidak tampil sebagai penonton nan budiman. UMKM wilayah ujung barat Indonesia itu tidak hanya menjadi penonton dalam proyek ini. 

Berdasarkan skema operasi FPSO secara global, kebutuhan harian dan bulanan mencakup sektor katering, transportasi laut, jasa fabrikasi dan pengelasan, pengadaan perangkat keselamatan kerja, hingga pengelolaan limbah industri. 

Menurut master pertambangan lulusan University of Colorado, Amerika Serikat, itu, potensi ini bisa membuka ribuan lapangan kerja baru bagi masyarakat Aceh. Lalu bakal membawa Bumi Serambi Mekah, julukan Aceh,  ke arah kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi. 

"Pemerintah melalui SKK Migas dan KKKS Mubadala perlu membuka peta kebutuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk FPSO South Andaman secara transparan. 

Jika UMKM Aceh mengetahui kebutuhan tersebut sejak dini, kami bisa mempersiapkan diri, mengikuti sertifikasi, dan naik kelas menjadi pemasok resmi. Gasnya untuk daya nasional, tetapi akibat ekonominya kudu dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh," ujar pengajar senior USK tersebut. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia