Uighur Xinjiang: Daerah Kaya di Jantung Benua Asia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Di kota Urumqi, Ibu Kota Xinjiang. Bersama Prof. Sudarnoto Ketua Bidang Luar Negeri MUI dan Hasan M.Hasan dari Uni Emirat Arab. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Daerah Otonomi Uighur Xinjiang adalah wilayah otonom di barat laut Tiongkok nan secara geografis berada tepat di jantung Benua Asia. Luasnya sekitar 1.664.900 kilometer persegi, nyaris menyamai luas daratan Indonesia. Dengan cakupan sekitar seperenam total daratan Tiongkok, Xinjiang merupakan wilayah setingkat provinsi terbesar di negara tersebut. Jumlah penduduknya pada 2025 diperkirakan mencapai 26,2 juta jiwa, dengan etnis Uighur nan kebanyakan berakidah Islam sebagai golongan etnis terbesar.

Wilayah ini berbatasan langsung dengan Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, India, dan Mongolia. Secara alamiah, Xinjiang didominasi bentang pegunungan seperti Pegunungan Tianshan, padang rumput luas, serta area gurun besar seperti Gurun Taklamakan. Di antara bentang alam tersebut terdapat cekungan-cekungan subur seperti Cekungan Tarim, Cekungan Junggar, dan wilayah Turpan nan menjadi pusat aktivitas pertanian dan permukiman.

Bagi Tiongkok, Xinjiang bukan sekadar wilayah perbatasan strategis, melainkan juga salah satu lumbung pangan terpenting. Sistem irigasi nan memanfaatkan lelehan salju dari pegunungan dipadukan dengan teknologi pertanian modern menjadikan area ini mempunyai tingkat swasembada pangan nan tinggi. Xinjiang dikenal sebagai produsen kapas berbobot tertinggi dan terbesar di Tiongkok, terutama dari wilayah Tarim dan Turpan. Selain kapas, wilayah ini menghasilkan gandum, jagung, padi, jawawut, dan sorgum nan tumbuh subur pada musim dingin dan musim semi. Xinjiang juga tersohor sebagai pusat buah-buahan manis dan segar seperti anggur tanpa biji dari Turpan, melon Hami, apel, dan pir wangi Korla, serta komoditas lain seperti bit gula dan kepompong ulat sutera.

Di luar sektor pertanian, Xinjiang mempunyai posisi sangat krusial dalam ketahanan daya nasional Tiongkok. Wilayah ini menyumbang sekitar 38 persen dari total persediaan batu bara nasional. Selain itu, persediaan minyak dan gas bumi nan besar terdapat di Junggar, Tarim, dan Turpan, nan jumlahnya diperkirakan lebih dari seperempat total persediaan nasional. Xinjiang juga kaya bakal logam mulia dan logam industri seperti emas, besi, tembaga, nikel, serta kandungan garam dan sodium nan melimpah di danau-danau garamnya.

Kekayaan sumber daya alam tersebut turut mendorong tingkat kesejahteraan ekonomi wilayah ini. Pada 2025, pendapatan per kapita Xinjiang diperkirakan mencapai sekitar USD 11.421, jauh di atas beberapa provinsi di Indonesia seperti Jawa Timur dan Jawa Barat pada tahun nan sama, meskipun tetap berada di bawah Jakarta dan jauh di bawah Beijing. Kemajuan ekonomi ini terlihat nyata dari pesatnya pembangunan di ibu kota wilayah tersebut, Urumqi, nan menunjukkan wajah kota modern dengan prasarana nan berkembang cepat.

Namun, di kembali kemajuan ekonomi dan pembangunan bentuk tersebut, muncul pertanyaan krusial nan layak menjadi perhatian dalam perjalanan ini: gimana sesungguhnya kondisi sosial ekonomi dan peran umat Islam Uighur dalam perkembangan Xinjiang? Sejauh mana mereka terlibat dan merasakan faedah dari kemajuan nan terjadi? Dalam konteks ini, sikap dan kebijakan pemerintah Tiongkok menjadi aspek nan sangat menentukan dinamika kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan di wilayah nan sangat strategis ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan