Tujuh Bulan Pascabanjir Bireuen: Ribuan Hektare Sawah masih Tertimbun Lumpur

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Ribuan Hektare Sawah tetap Tertimbun Lumpur RIBUAN hektare (ha) lahan sawah di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, terendam banjir.(Dok. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

RIBUAN hektare (ha) lahan sawah di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, hingga sekarang tetap terbengkalai akibat tertimbun material lumpur pascabanjir besar Sumatra nan terjadi pada 27 November 2025 lalu. Meski musibah banjir Sumatra telah berlalu nyaris tujuh bulan, hamparan sedimen lumpur setinggi 1 hingga 2 meter tetap menutupi lahan produktif penduduk tanpa adanya upaya pembersihan dari pemerintah terkait.

Kondisi memprihatinkan ini salah satunya terlihat di Kemukiman Teungku Syik Dimanyang, Kecamatan Kuta Blang. Sedikitnya 50 ha sawah di area tersebut berubah menjadi "danau lumpur". Selain lahan nan tak lagi bisa digarap, prasarana vital seperti saluran irigasi dan jaringan pompa air raib tertimbun sedimen.

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia pada Minggu (7/6), wilayah terdampak parah meliputi Desa Geulanggang Rayeuek, Geulanggang Meunje, Babah Suak, Cot Mee, Tingkeuem Manyang, Cot Baroh, Ulee Pusong, dan Meunasah Rayeuek. Padahal, desa-desa tersebut sebelumnya dikenal sebagai lumbung pangan penyumbang surplus gabah di Kabupaten Bireuen.

Dua Musim Tanam Hilang

Tokoh masyarakat Kuta Blang, Teungku Zainal Abidin, mengungkapkan bahwa para petani di delapan desa tersebut sekarang kehilangan mata pencaharian utama. "Sudah memasuki dua kali musim tanam lahan sawah kami tidak produktif. Musim tanam rendengan akhir tahun lampau gagal, dan sekarang musim tanam gadu juga tidak bisa digarap lantaran lumpur tetap tinggi dan irigasi hancur," ujarnya.

Zainal mengestimasi, dalam kurun waktu satu tahun ini, potensi produksi gabah nan lenyap mencapai sedikitnya 1.000 ton hanya dari delapan desa tersebut. Dampaknya, penduduk nan biasanya memanen padi melimpah sekarang terpaksa membeli beras untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Krisis ini juga memicu pengaruh domino ekonomi. Ismail, seorang petani setempat, menyebut bahwa pekerja tani sekarang kehilangan pekerjaan, mulai dari jasa bajak sawah hingga pekerja angkut gabah. "Pedagang perangkat pertanian dan sarana produksi padi (saprodi) juga sunyi pembeli lantaran aktivitas pertanian lumpuh total," tambahnya.

Ancaman Pendidikan Anak Petani

Budayawan sekaligus Dosen Senior Universitas Syiah Kuala (USK), M. Adli Abdullah, menyoroti akibat sosial jangka panjang dari lumpuhnya sektor pertanian di Bireuen dan Pidie Jaya. Sebagai sentra produksi padi di pesisir utara Selat Malaka, ketidakpastian lahan pertanian bakal memukul sektor pendidikan.

"Ribuan mahasiswa nan kuliah di USK, UIN Ar-Raniry, hingga Universitas Almuslim adalah anak-anak petani. Orang tua mereka membiayai pendidikan dari hasil panen padi, kopi, dan kakao. Jika lahan angan mereka hancur, ini sangat mempengaruhi masa depan pendidikan anak bangsa," tegas Adli.

Hingga saat ini, sebagian besar lahan nan rusak parah dilaporkan telah beranjak kegunaan menjadi daratan lantaran tebalnya sedimen. Tanpa intervensi perangkat berat dan rehabilitasi irigasi dari pemerintah, krisis pangan dan kemiskinan di wilayah lumbung beras Aceh ini dikhawatirkan bakal semakin mendalam. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia