Trump Usul Suriah Intervensi Libanon, Mungkinkah Sejarah 1976 Terulang?

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Trump Usul Suriah Intervensi Libanon, Mungkinkah Sejarah 1976 Terulang? Donald Trump.(Al Jazeera)

PERNYATAAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara dengan NBC News awal bulan ini menghidupkan kembali perdebatan lama di Timur Tengah. Trump menyatakan keinginannya untuk memandang serangan nan lebih presisi terhadap Hizbullah dan menyarankan agar pemimpin baru Suriah, Ahmad al-Sharaa (sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammad al-Julani), dapat berkedudukan dalam mencapai kesepakatan atas bentrok di Libanon.

Trump apalagi meningkatkan retorikanya dengan menyatakan bahwa jika Israel tidak dapat menyelesaikan tugasnya tanpa menyantap banyak korban jiwa, "Suriah kudu melakukan tugas tersebut." Ia mengusulkan agar Suriah, berkoordinasi dengan AS, mengambil alih penanganan Hizbullah jika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak dapat dikendalikan.

Menoleh ke Belakang: Bayang-Bayang Intervensi 1976

Pertanyaan besar nan muncul adalah: mungkinkah Suriah kembali memainkan peran keamanan alias militer langsung di Libanon, seperti nan dilakukannya pada 1976? Secara permukaan, komparasi ini tampak menggoda, menyandingkan kepemimpinan di Damaskus saat ini dengan mendiang Presiden Hafez al-Assad nan mengirim pasukan ke Libanon saat perang saudara.

Namun, kajian mendalam menunjukkan bahwa kemiripan tersebut hanyalah berkarakter superfisial. Pada 1976, intervensi Suriah terjadi di bawah kondisi nan sangat spesifik:

  • Permintaan Resmi: Langkah tersebut dilakukan atas permintaan Presiden Libanon saat itu, Suleiman Frangieh.
  • Dukungan Internasional: Ada pemahaman diam-diam antara AS, Arab Saudi, dan Prancis nan memberikan ruang bagi Suriah untuk bertindak sebagai kekuatan penyeimbang.
  • Negara nan Stabil: Suriah pada 1976 adalah entitas politik nan kohesif dengan lembaga berfaedah dan tentara ahli nan disiplin.

Kondisi Suriah Saat Ini: Transisi dan Tantangan Internal

Kondisi Suriah di bawah Ahmad al-Sharaa saat ini sangat berbeda. Kepemimpinan di Damaskus tetap berada dalam posisi transisional dan sedang berupaya mengonsolidasikan otoritas di dalam negeri nan hancur akibat bentrok bertahun-tahun. Belum ada konsensus nasional nan luas mengenai tatanan politik masa depan, dan kerangka institusionalnya tetap belum lengkap.

Tantangan utama nan dihadapi otoritas saat ini adalah masalah internal, mulai dari membangun kembali lembaga negara, mengatasi keruntuhan ekonomi, hingga mengelola akibat sosial dari perang nan berkepanjangan. Prioritas Damaskus saat ini adalah konsolidasi di dalam negeri, bukan proyeksi kekuatan ke luar negeri.

Analisis Militer: Struktur militer Suriah saat ini merupakan produk dari perang nan terfragmentasi. Berbeda dengan tentara reguler tahun 1976, susunan militer sekarang terdiri dari beragam faksi nan dulunya merupakan golongan bersenjata berbeda. Upaya untuk menyatukan mereka menjadi tentara nasional nan tunggal tetap berkarakter parsial dan tidak merata.

Libanon tanpa Undangan

Konteks di Libanon juga berubah secara fundamental. Saat ini, tidak ada seruan dari pihak Libanon untuk keterlibatan Suriah. Sebaliknya, sebagian besar tokoh politik Libanon memandang periode pengaruh Suriah di masa lampau sebagai babak sejarah nan tidak mau mereka ulangi.

Selain itu, aspek Turki menjadi variabel baru nan tidak ada pada 1976. Kehadiran Ankara di Suriah menambah lapisan kompleksitas. Setiap pergerakan Suriah ke Libanon bakal berbenturan dengan 'garis merah' Turki, kepentingan Iran, dan kalkulasi Hizbullah sendiri.

Kesimpulan: Batasan Kekuasaan

Meskipun Washington dan Teheran menandatangani memorandum sementara nan membekukan konflik, dugaan bahwa Suriah dapat dengan mudah masuk ke Libanon tetap diragukan. Kekuasaan dibatasi oleh pengetahuan permukaan bumi dan kondisi internal negara itu sendiri.

Pertanyaan mendesaknya bukanlah apakah Damaskus dapat masuk kembali ke Libanon, tetapi apakah mereka sepenuhnya bisa membenahi rumah mereka sendiri. Seperti pepatah politik lama, mereka nan belum bisa mengatur rumah tangganya sendiri tidak mungkin bisa mengatur lingkungan di sekitar mereka. (The Cradle/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia