Trump Tiba-Tiba Ancam Serang Oman Bila 'Main Mata' dengan Iran

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menakut-nakuti bakal menggunakan kekuatan militer terhadap Oman jika negara itu bekerja-sama dengan Iran untuk menegaskan kendali atas Selat Hormuz.

Mengutip Al Jazeera, pada rapat kabinet hari Rabu, seorang reporter meminta Trump untuk memberikan pendapatnya tentang pendapat Oman dan Iran mengawasi perdagangan di jalur air strategis tersebut, nan menangani lebih dari 20% lampau lintas minyak dunia dunia.

"Apakah Anda bakal menerima kesepakatan jangka pendek nan memungkinkan Iran dan Oman untuk mengendalikan selat tersebut?" tanya reporter itu, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (28/5/2026).

Trump menjawab dengan ancaman nan tampaknya asal bunyi.

"Tidak ada nan bakal mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman bakal berperilaku seperti orang lain, alias kita kudu meledakkannya," jawab Trump.

Meskipun awalnya ada spekulasi bahwa Trump mungkin salah bicara dan mengatakan "Oman" alih-alih "Iran", Departemen Luar Negeri AS kemudian membagikan komentar tersebut di media sosial, dengan transkrip quote nan merujuk pada negara Arab tersebut.

Oman, nan dikenal lantaran netralitasnya, belum mengatakan mau berasosiasi dengan Iran dalam mengendalikan Hormuz. AS dan Oman adalah sekutu dekat dengan hubungan nan telah terjalin lebih dari 200 tahun.

Kedua negara mempunyai banyak perjanjian kerja sama, termasuk kemitraan keamanan, perjanjian perdagangan bebas, dan kesepakatan pengetahuan pengetahuan dan teknologi.

Oman sebelumnya bertindak sebagai mediator kunci antara Washington dan Teheran ketika mereka berupaya menyelesaikan perang nan dimulai pada 28 Februari, saat AS dan Israel menyerang Iran.

Ancaman Trump pada hari Rabu menyoroti peningkatan ketergantungannya pada kekuatan militer dalam kebijakan luar negerinya. Strategi ini kadang-kadang disebut "diplomasi kapal perang".

Namun, para kritikus dengan sigap mengecam ancaman tersebut sebagai tindakan sembrono. Raed Jarrar, kepala pembelaan di golongan kewenangan asasi manusia DAWN nan berbasis di AS, menyamakan komentar presiden AS tersebut dengan komentar seorang "bos mafia".

"Piagam PBB melarang ancaman kekerasan terhadap negara mana pun, dan larangan itu mengikat Amerika Serikat persis seperti mengikat semua orang lain," kata Jarrar kepada Al Jazeera.

"Mengancam untuk 'meledakkan' sebuah negara Arab lantaran perairannya kebetulan berada di sepanjang jalur minyak nan mau dibuka kembali oleh Washington adalah logika tanpa norma nan sama nan menghasilkan perang ini pada bulan Februari, dan ini adalah sinyal paling jelas bahwa gencatan senjata apa pun nan ditengahi pemerintahan ini hanya bakal memperkuat sampai presiden kehilangan kesabarannya lagi dalam rapat kabinet."

Ancaman Trump muncul setelah televisi pemerintah Iran melaporkan kerangka nota kesepahaman (MOU) antara kedua negara.

Draf memorandum tersebut dilaporkan bakal memberikan Iran dan Oman kendali berbareng untuk mengelola selat tersebut. Namun, pemerintahan Trump menyebut laporan itu sebagai "sebuah rekayasa sepenuhnya".

Hormuz, jalur pelayaran utama untuk produk daya dunia dan pupuk pertanian, telah beraksi sebagai jalur internasional bebas selama beberapa dekade. Tetapi setelah AS dan Israel mulai membombardir Iran pada bulan Februari, Teheran menutup selat tersebut dan mulai menegaskan kedaulatannya.

Sebagian jalur air tersebut melewati perairan teritorial Iran dan Oman.

Selama rapat kabinet hari Rabu, Trump juga mengulangi seruannya kepada negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi dan Qatar, untuk menjalin hubungan umum dengan Israel sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata AS-Iran di masa depan.

Sebelumnya, selama masa kedudukan pertamanya, Trump telah membantu menengahi apa nan disebut Kesepakatan Abraham untuk mendorong negara-negara Arab menjalin hubungan resmi dengan Israel.

Dorongan normalisasi itu muncul kembali dalam beberapa hari terakhir sebagai prioritas utama bagi Trump. Ia menakut-nakuti bakal menarik diri dari negosiasi jika lebih banyak negara Arab tidak menandatanganinya.

"Saya pikir mereka berutang itu kepada kita, jujur saja," kata Trump pada suatu saat selama pertemuan meja bundar hari Rabu.

Ia kemudian menambahkan, "Saya tidak percaya kita kudu membikin kesepakatan jika mereka tidak menandatanganinya, jika Anda mau tahu nan sebenarnya."

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Al Jazeera perihal ini.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News