Trump Klaim Damai dengan Iran, Pasar Ragukan Pembukaan Selat Hormuz

Sedang Trending 44 menit yang lalu
Trump Klaim Damai dengan Iran, Pasar Ragukan Pembukaan Selat Hormuz Ilustrasi.(Magnific)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada Sabtu (23/5) waktu setempat bahwa perdamaian dengan Iran sudah di depan mata dan Selat Hormuz bakal segera dibuka kembali. Namun, pernyataan ini disambut dengan skeptisisme oleh pasar dunia nan berulang kali menghadapi klaim serupa selama tiga bulan terakhir tanpa bukti nyata di lapangan.

Meskipun Iran secara militer terdesak, Teheran tetap menggunakan strategi perang asimetris--termasuk penggunaan kapal cepat, ranjau, dan drone canggih--untuk memblokade selat tersebut. Blokade ini telah mencekik ekonomi dunia dengan memutus akses terhadap seperlima pasokan minyak dunia.

Tantangan Logistik: Mengurai Kemacetan di Selat

Jika perdamaian betul-betul terwujud, para mahir memperingatkan bahwa pemulihan jalur perdagangan tidak bakal terjadi dalam semalam. Menurut info dari Kpler, terdapat sekitar 166 kapal tanker nan terjebak di Teluk Persia dengan muatan sekitar 170 juta barel minyak.

Proses pemulihan kapabilitas transit penuh diperkirakan menyantap waktu hingga tiga bulan. Langkah-langkah teknis nan kudu dilalui meliputi:

  1. Pembersihan Bottleneck: Mengeluarkan kapal tanker nan terjebak sebelum mengizinkan kapal kosong masuk untuk memuat minyak.
  2. Pengurangan Stok Gudang: Kilang kudu menghabiskan persediaan nan menumpuk selama blokade sebelum bisa menerima pasokan baru secara maksimal.
  3. Reaktivasi Sumur Minyak: Menghidupkan kembali produksi di Timur Tengah adalah tantangan teknik nan kompleks. Sumur nan ditutup memerlukan waktu berminggu-minggu untuk diseimbangkan kembali tekanannya agar reservoir tidak runtuh.
  4. Perbaikan Infrastruktur: Kerusakan pada kilang dan akomodasi gas akibat perang diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki sepenuhnya.

Catatan Analis: Sekitar 12 juta barel per hari produksi minyak mentah dan 3 juta barel produk minyak olahan di Timur Tengah (terutama Arab Saudi dan Irak) saat ini tetap dalam kondisi offline.

Skeptisisme Pasar dan Harga Minyak

Para pedagang minyak tetap waspada mengingat sejarah fakeouts atau klaim perdamaian tiruan sebelumnya. Pada 18 April lalu, Iran sempat setuju membuka selat, tetapi kembali menyerang kapal hanya beberapa jam kemudian setelah menuduh AS dan Israel melanggar kesepakatan.

Harga minyak mentah Brent menetap di nomor sedikit di atas US$100 per barel pada Jumat. Analis dari JPMorgan memprediksi jika selat dibuka pada awal Juni, nilai minyak bakal rata-rata berada di level US$97 per barel sepanjang sisa tahun ini.

Namun, untuk mencapai nilai bensin nan terjangkau bagi konsumen, nilai Brent perlu turun ke kisaran US$60. Angka ini menurut pasar berjangka mungkin tidak bakal tercapai hingga tahun 2032.

Risiko Keamanan dan Asuransi

Selain masalah teknis, perusahaan pelayaran tetap mengkhawatirkan aspek keamanan. Perusahaan asuransi telah meningkatkan premi perlindungan maritim hingga ribuan persen. Selama Iran belum memberikan agunan lintas bebas tanpa pungutan tol alias ancaman ranjau, banyak kapal mungkin tetap enggan melintasi jalur tersebut.

Kantor buletin negara Iran, Fars, mempertegas keraguan ini dengan melaporkan bahwa kembalinya jumlah kapal ke level sebelum perang tidak berfaedah lintas bebas seperti sedia kala bakal diberlakukan kembali secara otomatis.

Dunia sekarang menunggu apakah klaim Trump kali ini bakal membuahkan hasil nyata alias hanya menjadi retorika politik lain di tengah krisis daya nan kian mencekik. (CNN/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia