Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dijadwalkan mengumumkan suntikan investasi besar-besaran serta mempererat ikatan politik dengan Greenland pada hari Senin. Langkah garang ini merupakan manuver tegas Uni Eropa (UE) untuk menjegal ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nan ngotot mau mencaplok wilayah otonom Denmark tersebut.
Mengutip Reuters, Senin (7/9/2026), von der Leyen telah tiba di Nuuk, ibu kota Greenland, pada hari Minggu untuk kunjungan dua hari nan difungsikan sebagai unjuk support nyata bagi pemerintah Greenland dan Denmark nan menolak keras kampanye aneksasi Trump.
Kepala badan pelaksana UE nan beranggotakan 27 negara tersebut bersiap meluncurkan rencana investasi di beragam sektor strategis, termasuk mineral kritis, komunikasi satelit, dan daya terbarukan.
Di Nuuk, von der Leyen menegaskan bahwa paket support tersebut bakal berbobot substansial, meskipun dia belum memberikan rincian lebih lanjut. Merespons kucuran biaya ini, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyambut antusias support dari Eropa.
"Negara kami mau membangun persahabatan nan erat dan kemitraan nan baik dengan UE," tuturnya.
Kunjungan von der Leyen secara langsung mencerminkan meningkatnya kepentingan geopolitik Kutub Utara bagi negara-negara adikuasa seperti AS, Rusia, China, dan Eropa, seiring mencairnya es nan membuka rute pelayaran baru dan mempermudah akses ke kekayaan mineral di area tersebut.
"Lanskap Greenland nan menakjubkan dan keelokan alamnya bakal selalu saya kenang untuk waktu nan lama. Namun, begitu pula luka nan terlihat akibat perubahan suasana di lapisan es. Seiring mencairnya es, realita baru mulai terbentuk," ungkapnya dalam sebuah unggahan di platform X setelah melakukan perjalanan perahu.
Drama Aneksasi Trump
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memicu krisis hubungan AS-Eropa sekaligus kekacauan di dalam aliansi militer NATO pada tahun ini ketika dia menuntut agar AS mengendalikan Greenland. Trump berkilah bahwa sesama personil NATO, Denmark, tidak bisa mempertahankan wilayah tersebut.
Pejabat Eropa pun merespons keras dengan menekankan bahwa Greenland adalah bagian dari wilayah NATO nan dilindungi oleh pakta pertahanan berbareng aliansi, dan AS sebenarnya telah mempunyai kewenangan untuk meningkatkan kehadiran militernya di sana berasas perjanjian lama.
Ketegangan sempat mereda setelah Trump dan bos NATO Mark Rutte sepakat di Davos pada bulan Januari lampau bahwa AS, Denmark, dan Greenland bakal memulai pembicaraan untuk menyelesaikan perbedaan mereka, sementara NATO bakal meningkatkan perannya dalam keamanan Arktik.
Namun, negosiasi trilateral tersebut belum membuahkan kesepakatan apa pun. Trump justru kembali mengulangi desakannya agar AS menguasai Greenland pada KTT NATO di Turki bulan Juli lalu.
Meskipun Denmark adalah personil UE, Greenland sejatinya telah meninggalkan blok tersebut pada tahun 1985. Namun, sebagai penduduk negara Denmark, masyarakat Greenland otomatis juga berstatus sebagai penduduk negara UE. Blok tersebut telah lama memberikan pendanaan ke Greenland nan utamanya difokuskan untuk bayar kewenangan penangkapan ikan dan mendukung sistem pendidikan.
Para pejabat UE memastikan bahwa paket baru nan bakal diumumkan ini tidak hanya bakal mewakili peningkatan pendanaan nan besar, tetapi juga ekspansi sektor-sektor nan bakal menerima duit tunai dari UE.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·