Ilustrasi.(Magnific)
PEMERINTAHAN Donald Trump tengah berupaya memfinalisasi nota kesepahaman (MoU) dengan Iran guna meredakan bentrok di Timur Tengah. Fokus utama kesepakatan ini ialah pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lampau lintas kapal tanker minyak. Namun rencana tersebut memicu kekhawatiran mendalam dari sekutu utama AS, ialah Israel dan negara-negara Arab di area Teluk.
Kesepakatan nan sedang digodok ini bermaksud mengakhiri blokade pelabuhan Iran oleh AS dan menghentikan pertempuran selama setidaknya 60 hari. Sebagai imbalannya, Iran bakal membuka kembali Selat Hormuz dan membebaskan biaya transit selama negosiasi mengenai program nuklir dan tata kelola jalur air strategis tersebut berlanjut.
Kekhawatiran Israel dan Dilema Keamanan
Israel menyatakan keprihatinan bahwa kesepakatan ini hanya bakal meringankan tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran tanpa menyelesaikan masalah inti, ialah ambisi nuklir Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengadakan rapat kabinet keamanan untuk membahas perkembangan ini.
Pejabat Israel cemas pendekatan berjenjang ini--yang menunda rumor nuklir ke tahap berikutnya--akan memberikan ruang bagi Iran untuk memperkuat posisinya. Selain itu, Israel merasa kurang dilibatkan dalam konsultasi mengenai perincian negosiasi tersebut.
Poin Utama Kesepakatan:
- Gencatan senjata minimal 60 hari.
- Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lampau lintas daya global.
- Pelepasan sebagian aset Iran nan dibekukan (estimasi mencapai US$100 miliar alias sekitar Rp1.700 triliun).
- Negosiasi lanjutan mengenai pengayaan uranium Iran.
Sikap Negara Teluk dan Dampak Ekonomi
Negara-negara Arab di Teluk menyambut baik kesempatan berakhirnya serangan terhadap akomodasi daya mereka. Namun, mereka tetap waspada bahwa kesepakatan ini bisa membikin Iran merasa lebih berani menggunakan ancaman militer di masa depan, terutama setelah armada AS ditarik dari area tersebut.
Dari sisi ekonomi, pasar dunia merespons positif potensi penurunan akibat gangguan pasokan energi. Jika Selat Hormuz kembali normal pada Juni, nilai minyak mentah Brent diprediksi bisa turun ke level US$89 per barel pada akhir tahun, setelah sempat menyentuh US$103,54 per barel.
Tantangan Implementasi
Meskipun Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, menyatakan ada kemajuan dalam 48 jam terakhir, kritik keras datang dari faksi elang di AS. Senator Lindsey Graham dan Ted Cruz mengkritik kesepakatan nan dianggap hanya menguntungkan posisi tawar Iran tanpa agunan keamanan nan mengikat.
Selain itu, pemulihan arus logistik tidak bakal terjadi secara instan. CEO Adnoc memperkirakan aliran melalui Hormuz memerlukan waktu setidaknya empat bulan untuk mencapai 80% dari level sebelum perang. Biaya perbaikan prasarana daya nan rusak akibat bentrok juga diperkirakan mencapai US$58 miliar.
Hingga saat ini, para mediator tetap terus bekerja untuk memastikan apakah kesepakatan ini bakal menjadi solusi permanen alias sekadar perpanjangan gencatan senjata sementara nan rentan pecah kembali. (WSJ/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·