Liputan6.com, Jakarta - Tegar mengaku tetap trauma usai mengalami penyekapan dan penyiksaan selama bekerja di sebuah percetakan di Jakarta Pusat. Hal itu diungkapkannya saat dijenguk Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, Rabu (1/7/2026) kemarin.
Tegar kemudian menceritakan duduk perkara nan membuatnya mendapat perlakuan tidak menyenangkan tersebut. Dia awalnya dituduh mengambil limbah pelat cetak sebanyak 10 kali di tempatnya bekerja.
“Awalnya saya dituduh mencuri limbah pelat cetak. Setelah itu saya mengalami kekerasan berbareng teman-teman saya dan kemudian langsung dibawa ke rumah dan dipermalukan di depan penduduk sekitar,” kata Tegar.
Dalam perkara ini, terdapat tiga korban penyekapan ialah Tegar Saputra, Adit Saputra, dan Rafly Jaelani.
Tegar mengungkap pihak perusahaan meminta duit tukar sebesar Rp50 juta kepada masing-masing korban. Padahal, lembah pelat nan diambil hanya berkisar nilai senilai Rp200 ribu.
Dia pun tak menampik bahwa dirinya memang mengambil limbah pelat tersebut lantaran sedang memerlukan duit untuk kebutuhan keluarganya nan sedang sakit.
“Saat itu saya memang sedang memerlukan duit untuk keperluan family nan sedang sakit,” ucapnya.
Dia juga membantah tuduhan bahwa dirinya berulang kali mengambil limbah pelat cetak.
Ia mengaku mendapat ancaman kekerasan andaikan tidak bisa bayar duit nan diminta perusahaan.
“Adik pemilik perusahaan, Albert, menakut-nakuti jika saya tidak bayar Rp50 juta maka tangan saya bakal dipatahkan. Teman-teman saya juga mendapat ancaman nan sama,” ungkapnya.
Tegar menyebut dirinya bekerja sebagai pekerja lepas selama sekitar dua tahun di perusahaan percetakan tersebut dengan penghasilan Rp500 ribu per bulan tanpa BPJS Ketenagakerjaan.
“Kalau sakit alias memerlukan biaya pengobatan, saya tanggung sendiri,” ujarnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·