Transformasi Ekonomi Korea Utara: Dari Aplikasi Taksi hingga Mobil Mewah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Dari Aplikasi Taksi hingga Mobil Mewah Kim Jong Un.(Al Jazeera)

PYONGYANG kini bukan lagi ibu kota nan sunyi dan tertinggal seperti persepsi bumi selama ini. Rowan Beard, seorang operator tur asal Australia nan mengunjungi Korea Utara lebih dari 100 kali, terkejut saat mendapati kendaraan tiba hanya dalam hitungan menit setelah dipesan melalui aplikasi ponsel pandai berjulukan Samhung, jasa transportasi daring nan serupa dengan Uber.

Fenomena ini menjadi simbol kebangkitan ekonomi Korea Utara nan tak terduga. Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, negara nan terisolasi ini justru menunjukkan pertumbuhan nan signifikan di tengah hukuman internasional nan ketat. Transformasi ini didorong oleh penguatan aliansi strategis dengan Rusia dan Tiongkok serta keahlian rezim untuk memutar roda ekonomi digital domestik.

Aliansi Militer dan Suntikan Dana Segar

Kebangkitan ekonomi ini tidak terjadi secara organik. Laporan dari Institute for National Security Strategy (INSS) di Seoul mengindikasikan bahwa Korea Utara meraup miliaran dolar dari penjualan amunisi dan pengiriman lebih dari 15.000 tentara untuk membantu Rusia di garis depan perang Ukraina. Hubungan ini tidak hanya memberikan untung finansial, tetapi juga akses ke teknologi militer sensitif dan bahan energi.

Selain itu, perdagangan dengan Tiongkok mencapai level tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Berbagai merek konsumen Tiongkok sekarang membanjiri pasar Korea Utara, mulai dari komponen teknologi hingga kendaraan listrik (EV) nan sekarang lazim terlihat di jalanan Pyongyang.

Fakta Kunci Ekonomi Korea Utara 2024:

  • Pertumbuhan PDB mencapai 3,7% pada tahun 2024, laju tercepat dalam delapan tahun.
  • Pembangunan 10.000 rumah baru di Pyongyang dalam setahun, melampaui volume pembangunan di Los Angeles alias Chicago.
  • Produksi ponsel pandai domestik mencapai 500.000 unit per tahun dengan lebih dari 50 merek lokal tersedia.

Gaya Hidup Baru di Pyongyang

Para visitor nan baru-baru ini diizinkan masuk menggambarkan pemandangan nan kontras dengan masa lalu. Di pusat kota, restoran sekarang menyajikan pizza panggang kayu dan sayap ayam, dengan sistem pembayaran melalui kode QR seluler. Toko hewan peliharaan, kafe gim internet, hingga diler mobil nan memajang merek mewah seperti BMW mulai bermunculan.

Zoe Stephens, seorang pemandu tur asal Inggris, mencatat perubahan drastis pada perilaku transaksi masyarakat. "Sebelum pandemi, semua pembayaran menggunakan tunai. Tahun lampau di Pyongyang, saya memandang masyarakat lokal membeli peralatan dengan ponsel pandai mereka. Ada aplikasi untuk memesan makanan, kebutuhan pokok, hingga obat-obatan resep," ujarnya.

Kontrol Negara dan Kesenjangan Wilayah

Meskipun Pyongyang tampak berkilau, laporan PBB mengingatkan bahwa nyaris separuh dari 26 juta masyarakat Korea Utara tetap mengalami malanutrisi. Kim Jong Un menggunakan momentum pertumbuhan ini untuk memperkuat kontrol pusat, menggantikan pasar gelap (jangmadang) dengan toko-toko dan toko obat nan dikelola negara.

Melalui inisiatif 20x10, Kim menargetkan pembangunan pabrik modern di 20 kota dan kabupaten setiap tahun selama satu dasawarsa ke depan. Langkah ini bertujuan merevitalisasi ekonomi lokal sekaligus memastikan ketergantungan rakyat tetap berada di bawah kendali rezim, bukan pada pedagang swasta alias penyelundup.

Dengan posisi ekonomi terkuat sejak Kim berkuasa 15 tahun lalu, angan Barat untuk menekan Pyongyang melalui hukuman ekonomi agar menghentikan program nuklirnya tampaknya semakin memudar. Korea Utara membuktikan bahwa dengan support mitra strategis, mereka bisa membangun ekonomi nan tahan banting di kembali gorden besi. (Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia