Masyarakat dan visitor alias pelancong berebut dua gunungan grebeg pada seremoni Idul Adha 1447 H/2026 di pelataran Masjis Agung Keraton Surakarta, Kamis (28/5/2026).(MI/Widjajadi)
RIBUAN penduduk dan visitor memadati pelataran Masjid Agung Keraton Surakarta Hadiningrat pada Kamis (28/5/2026) siang. Mereka antusias mengikuti tradisi Grebeg Besar dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Puncak aktivitas ditandai dengan prosesi "ngalap berkah" alias berebut gunungan hasil bumi nan ludes hanya dalam waktu kurang dari 10 menit.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan Grebeg Besar kali ini memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat umum. Biasanya, gunungan jaler (laki-laki) dibawa kembali ke dalam keraton untuk diperebutkan oleh para abdi dalem setelah didoakan. Namun, pada tahun 2026 ini, pihak keraton memutuskan agar seluruh gunungan diperebutkan oleh masyarakat di pelataran masjid.
KP Eddy Wirabhumi dari Lembaga Hukum Keraton Surakarta menjelaskan bahwa keputusan ini diambil lantaran memandang animo masyarakat dan visitor nan sangat luar biasa. "Kita memang kudu mengalah. Animo luar biasa, ada visitor nan mau mengenal budaya tradisi keraton. Jadi mesti didahulukan untuk mengenalkan, melestarikan, sekaligus membumikan Solo sebagai pusat budaya Jawa," ujarnya.
Sebelum diperebutkan, dua gunungan utama dikirab dari dalam Keraton Surakarta menuju Masjid Agung dengan pengawalan ratusan prajurit dan abdi dalem. Prosesi kirab ini menjadi daya tarik utama bagi para pelancong nan mau menyaksikan kemegahan tradisi turun-temurun tersebut.
Filosofi Gunungan Jaler dan Estri
Tradisi Grebeg Besar bukan sekadar ritual bentuk berebut makanan, melainkan mempunyai kedalaman makna filosofis sebagai corak syukur raja atas terselesaikannya ibadah puasa Arafah dan Idul Adha. Berikut adalah makna dari komponen nan dikirab:
- Gunungan Jaler (Laki-laki): Berisi hasil bumi mentah seperti kacang panjang, tebu, cabe merah, dan telur asin. Ini melambangkan peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama.
- Gunungan Estri (Perempuan): Berisi makanan siap saji nan melambangkan peran wanita dalam mengelola hasil nafkah untuk kebutuhan keluarga.
- Gunungan Jodang: Tandu berisi makanan nan turut serta dalam iring-iringan kirab.
Catatan Kurban: Selain menggelar Grebeg Besar, Keraton Surakarta juga menyembelih empat ekor sapi berukuran besar. Daging kurban ini didistribusikan unik bagi para abdi dalem dan masyarakat di sekitar lingkungan keraton.
Antusiasme Warga: Antara Tradisi dan Berkah
Bagi masyarakat, mendapatkan bagian dari gunungan dipercaya membawa berkah tersendiri. Martono, seorang penduduk dari Gemblegan, mengaku tidak pernah tidakhadir mengikuti ritual ini. "Sebagai bagian kawula Jawa, saya selalu ngalap berkah. Tadi dapat wortel dan cabai, rasanya senang sekali, seperti ada panggilan hati," tuturnya.
Senada dengan Martono, Agus Setyawan, seorang visitor asal Madiun, sengaja datang berbareng family untuk memberikan pengalaman budaya kepada anak-anaknya. Meski kudu berdesakan, dia merasa puas bisa mendapatkan potongan tebu dan kacang panjang sebagai kenang-kenangan dari seremoni Idul Adha di Solo. (WJ/I-1)
FAQ Tradisi Grebeg Besar Keraton Surakarta
Apa tujuan utama Grebeg Besar?
Sebagai bentuk syukur Raja Keraton Surakarta kepada Tuhan nan Maha Esa dan sarana infak raja kepada rakyatnya.
Apa perbedaan gunungan jaler dan estri?
Gunungan jaler berisi hasil bumi mentah (simbol pencari nafkah), sedangkan gunungan estri berisi makanan olahan/siap saji (simbol pengelola rumah tangga).
Kapan Grebeg Besar dilaksanakan?
Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·