Tottenham Hotspur vs Everton: Ironi di Balik Keberhasilan Spur Lolos dari Jurang Degradasi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Ironi di Balik Keberhasilan Spur Lolos dari Jurang Degradasi Tottenham Hotspur resmi memperkuat di Liga Premier Inggris setelah menang atas Everton. Namun, seremoni ini diwarnai protes fans dan bayang-bayang kegagalan manajemen.(Tottenham Hotspur)

LAGU kebangsaan lama "Glory, Glory" menggema di dalam stadion raksasa saat Tottenham Hotspur sukses bangkit dari tepi lembah degradasi paling memalukan dalam sejarah Liga Premier Inggris.

Kemenangan atas Everton di hari terakhir kejuaraan memastikan Spurs memperkuat di kasta tertinggi, sekaligus mengirim West Ham United turun kasta ke Championship. Pemain dan suporter akhirnya bisa bernapas lega dan menatap musim depan sebagai klub Liga Premier Inggris.

ENIC Keluar

Namun, kegembiraan itu tidak berjalan lama. Sebuah spanduk besar dibentangkan oleh suporter dengan tulisan menohok: "Menjanjikan Kesuksesan. Menghasilkan Kegagalan. ENIC Keluar."

Bagi para suporter nan sudah kenyang dengan mediocrity (sifat biasa-biasa saja), protes ini sangat wajar. Bagaimanapun, ini baru kemenangan kandang ketiga nan mereka saksikan musim ini. Bagi para pemain, euforia instan ini memang bisa dimaklumi, tetapi rasa malu semestinya segera datang saat mendengar suporter menyanyikan yel-yel "Kita Bertahan". Kata-kata nan biasanya menjadi milik tim papan bawah tersebut semestinya mengusik seluruh komponen klub.

Musim ini melangkah sangat jelek bagi Spurs nan finis di ranking ke-17 untuk dua musim berturut-turut. Padahal, tanda-tanda keretakan sudah tertutupi oleh kemenangan di Liga Europa musim lalu. Setelah Ange Postecoglou dipecat, masalah tersebut kembali terekspos begitu musim baru dimulai.

Manajemen klub turut andil dalam kekacauan ini, terutama setelah keputusan asing menunjuk Igor Tudor sebagai penerus Thomas Frank. Frank dipecat setelah delapan bulan, sementara Tudor didepak hanya dalam 44 hari setelah menelan lima kekalahan dari tujuh pertandingan.

Langkah pengamanan nan sukses mereka lakukan adalah meyakinkan Roberto De Zerbi untuk datang sebagai pembimbing darurat sebelum musim berakhir. De Zerbi mengakui dirinya kudu berkedudukan sebagai psikolog sekaligus pembimbing untuk mengangkat mental Spurs.

"Sekarang sekitar jam 7 malam, dan sekitar jam 8 alias 9 malam kami bakal mulai bekerja untuk musim depan," ujar De Zerbi menegaskan urgensi situasi klub.

"Musim depan kami kudu membangun tim nan sangat top. Kami tidak perlu mengubah terlalu banyak pemain di skuad, tetapi kami kudu mendatangkan beberapa pemain tingkat utama," tambahnya.

Cedera Pemain

Meski diterpa angin besar cedera pemain kunci seperti James Maddison dan Dejan Kulusevski, pencapaian finis di ranking ke-17 tetap tidak bisa dimaklumi untuk klub dengan stadion semegah Spurs dan pendapatan besar dari Liga Champions.

Bek Spurs, Micky van de Ven, mencoba optimistis menatap masa depan. "Saya sangat percaya diri. Dengan orang-orang nan tepat di sini sekarang saya yakin. Finis di ranking ke-17 dua tahun berturut-turut adalah perihal nan tidak bisa diterima oleh kami," tegasnya.

Spurs sekarang tidak mempunyai waktu untuk bersantai jika mau menghindari pengulangan memori kelam ini di musim depan. Evaluasi total kudu segera dimulai dari jejeran manajemen hingga ke dalam lapangan. (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia