, DENPASAR, – Dua tokoh seni terkemuka Bali, Prof. Dr. I Made Bandem dan Prof. Dr. I Wayan Dibia, mengusulkan agar Pesta Kesenian Bali (PKB) dievaluasi secara menyeluruh setiap periode kepemimpinan. Usulan ini disampaikan sebagai pengganti atas wacana penyelenggaraan PKB nan sempat diusulkan menjadi dua tahun sekali.
Dalam Diskusi Budaya PWI dan Kawiya PKB 2026 di Denpasar, Jumat, Prof Bandem menegaskan bahwa pertimbangan per periode lebih tepat lantaran PKB mempunyai dasar norma berupa peraturan wilayah (perda). "Setiap satu periode minimal PKB ini kita perlu evaluasi, perencanaannya, pelaksanaannya, dan juga hasilnya lantaran PKB ini didasari atas perda, dibuat tim evaluasi, memandang juga kejadian perkembangan kesenian kita," ujarnya.
Seniman senior nan juga kurator PKB itu kurang sepakat jika solusi untuk mengatasi kejenuhan adalah mengubah agenda tahunan menjadi dwi tahunan. Pasalnya, banyak seniman dahsyat Bali nan mengantre untuk mendapatkan kesempatan tampil di panggung bergengsi tersebut.
"Sejak lama ada usulan seperti itu, tapi sekarang kita menghadapi bumi nan global, bumi media sosial, PKB satu tahun sekali saja anak-anak sudah mencari langkah belajar, sudah terampil, sehingga mestinya PKB tiap tahun menjadi lembaga riset tentang kesenian Bali," tegas Prof Bandem.
Analisis Minat Masyarakat
Untuk menjawab narasi bahwa PKB monoton, Prof Bandem menyarankan agar penyelenggara menganalisa sajian-sajian nan sesuai dengan minat masyarakat terkini. Ia mencontohkan kejadian pada PKB 2026, di mana penampilan barong ket viral dan membikin panggung Ardha Candra Taman Budaya Bali penuh sesak. Hal ini berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana pergelaran baleganjur justru mendapat perhatian terbesar.
Melihat dinamika tersebut, tokoh seni itu mengusulkan adanya pembaharuan dalam menggali potensi seni. Salah satu buahpikiran nan mencuat adalah musikalisasi puisi nan dipadukan dengan perangkat musik tradisional Bali. Proses rekonstruksi kesenian tradisi nan nyaris punah juga dinilai semakin banyak, sehingga konsentrasi utama ke depan adalah memastikan peningkatan kualitas agar pesta seni terus berjalan.
Kebutuhan Pusat Kebudayaan Baru
Salah satu poin krusial nan disoroti kurator adalah keberadaan Pusat Kebudayaan Bali, area nan sedang dibangun Pemprov Bali untuk mewadahi PKB di masa depan. Selama 48 tahun, pagelaran seni tahunan terbesar di Bali ini didominasi oleh Taman Budaya Art Centre nan mempunyai panggung dan area sangat terbatas. Dibutuhkan ruang lebih luas untuk menampilkan lebih banyak ragam kesenian. Pemanfaatan area baru ini diharapkan menjadi salah satu solusi dari hasil pertimbangan PKB 2026.
Prof Dibia menambahkan, pertimbangan Pesta Kesenian Bali dapat dibagi dalam periode-periode kepemimpinan nan selama ini mengatur regulasi. Periode pertama dimulai pada masa Gubernur Bali almarhum Prof. Ida Bagus Mantra sebagai pencetus PKB nan meletakkan fondasi pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali melalui pagelaran tahunan.
Selanjutnya, periode pada masa kepemimpinan almarhum Ida Bagus Oka lebih menitikberatkan pada konsolidasi dan penataan identitas budaya Bali. Lalu era Dewa Made Beratha di mana PKB berkembang dengan pelibatan masyarakat nan semakin luas, membuka ruang partisipasi seniman, komunitas, dan generasi muda.
Periode berikutnya berjalan pada masa Gubernur Made Mangku Pastika nan memperkuat kegunaan PKB sebagai sarana diplomasi budaya melalui beragam pagelaran seni dan penguatan jejaring kebudayaan. Pada periode Gubernur Wayan Koster, PKB diarahkan untuk membangun ekosistem budaya nan berkepanjangan melalui penguatan regulasi, perlindungan adat, tradisi, seni, dan budaya Bali.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·