Meski demikian, Tito menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan, terutama memasuki Mei 2026. Pemerintah wilayah diminta aktif memantau perkembangan nilai peralatan dan jasa di wilayah masing-masing, termasuk akibat kenaikan nilai minyak bumi terhadap biaya pengedaran dan transportasi.
Dia menjelaskan, sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan tertinggi pada periode ini. Sementara golongan makanan, minuman, dan tembakau relatif stabil sehingga membantu menjaga tekanan inflasi tetap terkendali.
Tito juga memberi perhatian unik kepada wilayah dengan tingkat inflasi di atas target, seperti Papua Barat dan Aceh. Dia meminta persoalan pengedaran pangan segera dibenahi, terutama untuk komoditas cabe merah nan tetap memicu kenaikan nilai di sejumlah wilayah.
“Sekali lagi kita amati betul akibat dari kenaikan peralatan dan jasa di wilayah masing-masing, terutama akibat kenaikan nilai minyak dunia serta perubahan kurs mata uang,” kata Tito.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM Elin Herlina, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa, serta Plt Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Popy Rufaidah.
Selain itu, rapat juga diikuti secara daring oleh perwakilan BPJPH, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kejaksaan Agung, Satgas Pangan Polri, Mabes TNI, dan Perum Bulog.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·