Ilustrasi--Pekerja memperlihatkan dua ikan kakap merah nan siap diekspor di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Jakarta, Senin (11/12/2023)(ANTARA/Mario Sofia Nasution)
KABAR mengenai potensi kandungan racun pada ikan kakap sempat memicu kekhawatiran di kalangan pencinta hidangan laut. Namun, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tidak perlu langsung menghindari konsumsi ikan terkenal ini.
Dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan IPB University, Prof. Joko Santoso, menegaskan bahwa pada dasarnya ikan kakap kondusif untuk dikonsumsi.
Menurutnya, akibat kesehatan hanya muncul pada kondisi-kondisi tertentu nan sangat spesifik.
"Ikan kakap pada umumnya kondusif dikonsumsi. Risiko muncul pada kondisi tertentu, terutama mengenai jenis dan ukuran ikan, habitat, letak penangkapan, serta langkah penanganannya," ujar Prof. Joko dalam keterangannya.
Mengenal Ciguatoksin: Racun nan Tak Hilang Saat Dimasak
Salah satu akibat utama nan perlu diwaspadai adalah ciguatera, ialah keracunan nan disebabkan oleh ciguatoksin. Racun ini tergolong rawan lantaran sifatnya nan tahan panas, sehingga tidak bakal lenyap meskipun ikan telah dimasak hingga matang.
Prof. Joko menjelaskan bahwa ciguatoksin berasal dari mikroalga alias ganggang laut mini seperti Gambierdiscus. Alga ini menghasilkan toksin nan kemudian masuk ke dalam rantai makanan laut. Ikan nan menyantap organisme terkontaminasi bakal mengakumulasi racun tersebut di dalam tubuhnya.
Namun, dia menekankan bahwa tidak semua ikan kakap mengandung racun ini. Risiko tertinggi ditemukan pada:
- Ikan kakap jenis predator nan hidup di ekosistem terumbu karang.
- Ikan nan berukuran besar dan berumur tua.
- Ikan nan ditangkap di wilayah tropis alias subtropis tertentu nan mempunyai riwayat kasus ciguatera.
Bahaya nan Tak Kasat Mata
Hal nan paling menantang dari ciguatoksin adalah sifatnya nan tidak mengubah bentuk ikan. Ikan nan mengandung toksin tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, tidak berbau aneh, dan rasanya tetap normal. Bahkan, perairan tempat ikan tersebut ditangkap tidak kudu terlihat kotor untuk mengandung akibat ini.
Selain ciguatoksin, Prof. Joko juga mengingatkan adanya akibat polutan lain seperti merkuri, terutama pada ikan predator besar nan mempunyai masa hidup panjang di perairan tercemar.
Faktor Risiko Akumulasi Racun pada Ikan Kakap:
| Ukuran & Umur | Besar dan Tua (Akumulasi toksin lebih banyak) |
| Habitat | Ekosistem Terumbu Karang |
| Jenis Ikan | Predator (Pemakan ikan lain) |
| Lokasi | Wilayah dengan peringatan resmi Ciguatera |
7 Tips Aman Memilih Ikan Kakap
Agar tetap bisa menikmati kelezatan ikan kakap tanpa rasa khawatir, Prof. Joko membagikan tujuh langkah praktis bagi konsumen:
- Pastikan Sumber Jelas: Belilah ikan dari nelayan alias penjual terpercaya nan mengetahui dengan pasti asal tangkapannya.
- Cek Lokasi Penangkapan: Hindari ikan nan berasal dari wilayah nan sedang mendapat peringatan resmi mengenai kasus ciguatera.
- Waspadai Ukuran Jumbo: Lebih berhati-hati terhadap kakap predator berukuran sangat besar dari area terumbu karang.
- Pilih Ukuran Sedang/Kecil: Ikan nan lebih mini umumnya mempunyai akumulasi toksin nan jauh lebih rendah dibandingkan ikan tua.
- Jangan Terkecoh Kesegaran: Ingat bahwa ikan nan terlihat sangat segar tetap bisa mengandung ciguatoksin lantaran racun ini tidak mengubah tampilan fisik.
- Perhatikan Kualitas Fisik (Bakteri): Untuk menghindari keracunan bakteri, pilih ikan dengan mata jernih, daging kenyal, insang tidak berlendir, dan disimpan dalam suhu dingin.
- Masak Hingga Matang: Meski tidak menghancurkan ciguatoksin, memasak hingga matang sangat krusial untuk membunuh mikroorganisme rawan lainnya.
"Yang paling penting, jika suatu wilayah mempunyai peringatan resmi mengenai ciguatera, sebaiknya jangan mengonsumsi ikan karang predator dari wilayah tersebut meskipun ikannya tampak sehat," pungkas Prof. Joko.
Dengan pemahaman nan tepat mengenai asal-usul dan langkah pemilihan ikan, masyarakat tetap dapat menjadikan ikan kakap sebagai sumber protein nan sehat dan kondusif bagi keluarga. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·