Tiongkok Hapus Tarif Impor Afrika saat Trump Perketat Perdagangan AS

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Tiongkok Hapus Tarif Impor Afrika saat Trump Perketat Perdagangan AS Ilustrasi.(Magnific)

DI tengah kebijakan proteksionisme ketat nan kembali diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Tiongkok mengambil langkah strategis untuk memperluas pengaruhnya di Benua Hitam. Sejak 1 Mei 2024, Beijing resmi menghapus tarif impor bagi nyaris seluruh negara Afrika, langkah nan dinilai para analis sebagai upaya memenangkan persaingan geopolitik melawan Washington.

Kebijakan nol tarif ini bertindak untuk 53 dari 54 negara Afrika. Satu-satunya negara nan dikecualikan adalah Eswatini nan hingga sekarang tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Taiwan. Dengan kebijakan ini, beragam komoditas mulai dari produk pertanian seperti alpukat dan kopi hingga sumber daya mineral, dapat masuk ke pasar Tiongkok tanpa beban bea masuk.

Kontras Kebijakan: Beijing Merangkul, Washington Menjauh

Langkah Beijing itu muncul saat ekspor Afrika ke Amerika Serikat kian terhimpit. Sekembalinya ke Gedung Putih, Trump menerapkan daftar tarif panjang nan menyasar beragam negara. Afrika Selatan, ekonomi terbesar di benua tersebut, terkena tarif 30%, sementara Republik Demokratik Kongo dikenakan 15%.

Selain tekanan ekonomi, Trump mengambil langkah diplomatik nan drastis dengan menutup U.S. Agency for International Development (USAID) dan membiarkan puluhan pos duta besar di Afrika kosong. Ketidakpastian juga menyelimuti masa depan African Growth and Opportunity Act (AGOA), undang-undang era Clinton nan selama ini memberikan akses bebas bea ke pasar AS bagi negara-negara sub-Sahara.

Analisis Pakar: "Keputusan ini sangat pandai secara politik. Ini memperkuat gambaran Beijing sebagai mitra nan stabil dan dapat diandalkan, sangat kontras dengan sikap Washington nan lebih tidak menentu dan transaksional dalam beberapa tahun terakhir," ujar Ronak Gopaldas, Direktur Signal Risk.

Peluang dan Tantangan bagi Eksportir Afrika

Bagi negara-negara Afrika, kebijakan ini menawarkan angan untuk menekan defisit perdagangan. Wakil Presiden Kenya, Kithure Kindiki, menyatakan bahwa kesepakatan nol tarif ini merupakan kesempatan emas bagi produk unggulan seperti kacang macadamia, teh, dan kopi untuk merambah pasar Tiongkok nan masif.

Namun, para mahir mengingatkan bahwa penghapusan tarif saja tidak cukup. Terdapat tantangan besar nan kudu dihadapi negara-negara Afrika, antara lain:

  • Hambatan Nontarif: Persyaratan fitosanitasi (kesehatan tumbuhan) nan sangat ketat dari otoritas Tiongkok.
  • Infrastruktur Logistik: Lemahnya sistem transportasi dan tingginya biaya produksi di banyak negara Afrika.
  • Kapasitas Produksi: Kebutuhan mendesak untuk melakukan pengolahan nilai tambah di dalam negeri agar tidak hanya mengekspor bahan mentah.

Mengamankan Rantai Pasok Mineral Kritis

Di kembali narasi kemitraan pembangunan, Tiongkok juga mempunyai kepentingan strategis untuk mengamankan pasokan mineral langka. Dengan mempermudah perdagangan, Beijing memastikan aliran kobalt, tembaga, dan koltan--komponen vital bagi industri teknologi dan daya terbarukan global--tetap stabil di bawah kendali mereka.

Meskipun Tiongkok sempat mengurangi pembiayaan langsung akibat perlambatan ekonomi domestik, kebijakan akses pasar bebas tarif ini menjadi instrumen baru nan efektif untuk mempertahankan kekuasaan ekonomi di Afrika, sekaligus mengisi kekosongan nan ditinggalkan oleh Amerika Serikat. (WSJ/I-2)

Aspek Perbandingan Tiongkok (Beijing) Amerika Serikat (Trump)
Kebijakan Tarif Nol tarif untuk 53 negara Afrika Tarif tinggi (10% - 50%)
Pendekatan Diplomatik Mitra pembangunan & stabilitas Transaksional & retorika keras
Fokus Utama Akses pasar & mineral kritis Proteksionisme domestik
Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia