Tinggal Nestapa di Gang Sempit, Anak Sayuti Melik Kenang Main Gundu Bareng Megawati

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Sorot matanya tak lagi bisa menangkap wajah orang di depannya. Ucapan nan keluar pun kudu diucapkan perlahan, diselingi jarak nan cukup panjang. Namun ketika nama ayahnya, Sayuti Melik, disebut, ingatan Heru Baskoro seperti kembali membuka lembaran-lembaran lama.

Di sebuah kontrakan sederhana nan telah ditempatinya selama empat bulan terakhir berbareng sang istri, Treyzia Noviani, Heru mulai bercerita.

Sesekali dia berakhir sejenak, lampau melanjutkan kalimatnya. Di sampingnya, Treyzia membantu mengingatkan potongan-potongan kisah nan mulai memudar dimakan usia dan penyakit.

Kenangan pertama nan muncul bukan tentang Proklamasi Kemerdekaan alias sejarah besar nan melibatkan sang ayah. Heru justru lebih dulu mengingat gimana Sayuti Melik mendidik anak-anaknya di rumah.

“Bapak Sayuti itu orangnya apa disiplin terlalu keras kudu mengikuti aturan,” kata Heru kepada Liputan6.com, Senin (13/7/2026).

“Bapak kita pesan aja agar mengikuti peraturan nan baik dan tidak melanggar peraturan,” sambungnya.

Bagi Heru, disiplin menjadi pelajaran nan paling membekas dari sosok ayahnya. Ketegasan Sayuti Melik tidak hanya terlihat dalam perjuangannya untuk bangsa, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari sebagai kepala keluarga.

Di kembali sosok nan dikenal sebagai pengetik naskah Proklamasi, Heru mengenang ayahnya sebagai pribadi nan sederhana dan doyan bermain catur.

Kegemaran itu rupanya menurun kepada dirinya.

“Saya itu ingatnya hanya lantaran beliau suka main catur, jadi saya ikut pandai main catur,” katanya sembari tersenyum tipis.

Cerita demi cerita terus mengalir.

Di masa kecilnya, Heru tumbuh di lingkungan nan berkawan dengan family Presiden pertama RI, Soekarno. Salah satu kawan bermainnya adalah putri Bung Karno nan kelak menjadi Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri.

“Teman kecilnya justru Ibu Megawati itu adalah sama-sama suka main gundu,” ujar Treyzia.

Main gundu menjadi permainan nan mempertemukan anak-anak para tokoh bangsa saat itu. Bagi Heru, itu hanyalah bagian dari masa mini nan dijalaninya tanpa pernah membayangkan bahwa kawan bermainnya kelak bakal memimpin Indonesia.

Namun waktu melangkah begitu cepat.

Hingga kini, Heru belum pernah lagi berjumpa dengan Megawati. Treyzia mengaku beberapa kali berupaya mencari kesempatan untuk mempertemukan keduanya, tetapi belum berhasil.

Hubungan Bung Karno dan Sayuti Melik, Bukan Sekedar Juru Ketik

Selain mengingat masa kecilnya, Heru juga tetap mengingat kedekatan Sayuti Melik dengan Presiden Soekarno.

Menurutnya, hubungan keduanya bukan sekadar hubungan antara pemimpin dan pembantu. Sayuti Melik kerap menjadi kawan berbincang sekaligus orang nan memahami langkah berpikir Bung Karno.

“Pak Sayuti ngomong A, Bung Karno ngomong A. Dia sudah menerjemahkan maksudnya,” ujar Heru.

Bagi Heru, kedekatan itu bukan sesuatu nan spesial ketika tetap kecil. Baru setelah dewasa dia menyadari bahwa sang ayah mempunyai peran krusial di sekitar Bung Karno, termasuk menyiapkan beragam kebutuhan ketika Presiden hendak berpidato di beragam daerah.

Kini, kenangan-kenangan itu menjadi salah satu nan tetap tersisa di tengah kondisi kesehatan Heru nan terus menurun.

Pria berumur 84 tahun itu mengalami gangguan penglihatan sejak 2016. Kini, menurut pengakuannya, hanya mata kirinya nan tetap dapat melihat.

“Yang lihat hanya mata kiri, kanan nggak melihat,” ucapnya.

Selain gangguan mata, Heru juga menderita glukosuria nan memengaruhi kegunaan saraf hingga mulai muncul indikasi demensia.

Di tengah keterbatasan itu, Treyzia setia mendampinginya.

Harta Habis Demi Berobat Mata

Perempuan nan merupakan cucu Haji Agus Salim itu bercerita, sebelum sakit Heru pernah bekerja sebagai Direktur Keuangan Trans Bakrie. Setelah itu dia berkarier di perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat.

Pasangan ini kemudian menetap cukup lama di Kanada lantaran mempertimbangkan sistem jasa kesehatan di negara tersebut.

“Eh akhirnya jadi tertarik lantaran kesehatan terjamin. Kita pikir, sudah deh kita di sini saja,” kata Treyzia.

Namun perjalanan mereka berubah ketika Heru mengalami gangguan mata.

Rumah family di Indonesia akhirnya dijual untuk membiayai pengobatan. Pada 2021, Heru menjalani transplantasi kornea donor di salah satu rumah sakit mata terkemuka menggunakan biaya pribadi. Sayangnya, operasi tersebut tidak membuahkan hasil seperti nan diharapkan.

“Jadi kita sudah habis-habisan. Rumah dijual untuk berobat mata suami. Begitu kembali lagi ke Kanada, reimburse-nya tidak diturunkan,” tutur Treyzia.

Kini, pasangan itu tinggal di sebuah kontrakan sederhana di Bekasi sembari menunggu angan agar Heru dapat kembali menjalani operasi menggunakan kornea buatan di Kanada.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑