Timwas Haji DPR Ingatkan Risiko Cuaca Panas bagi Jemaah Lansia

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Ilustrasi jemaah haji berihram. Foto: Dok. MCH 2026

Netty Prasetiyani Aher berangkat ke Tanah Suci untuk mengawasi penyelenggaraan ibadah haji 2026. Netty merupakan personil Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR 2026 dari Komisi IX.

Netty menjelaskan, konsentrasi pengawasannya selama musim haji adalah pelayanan kesehatan bagi jemaah asal Indonesia. Ia berambisi pemerintah melalui Kementerian Haji betul-betul memperhatikan visi haji ramah lansia.

"Dan termasuk di dalamnya pasti ada teman-teman disabilitas. Saya juga mendengar salah satu Komisioner Nasional Disabilitas kita juga berangkat ya, Pak Deka Kurniawan. Jadi artinya, tahun ini menjadi salah satu tahun pencanangan setelah haji diurus oleh sebuah kementerian baru," kata Netty kepada wartawan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Senin (18/5).

Politikus PKS ini berambisi penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari pemberangkatan, pelaksanaan, hingga pemulangan, melangkah dengan baik.

Anggota Timwas Haji DPR 2026, Netty Prasetiyani. Foto: Dok. Timwas Haji DPR 2026

"Dan nan menjadi highlight dari Komisi IX adalah gimana aspek kesehatan ini mendapat perhatian. Kenapa? Karena kebanyakan jemaah haji nan berangkat dari Indonesia ini sudah berumur lansia dan sebagiannya menderita penyakit katastropik," ucap Netty.

Antisipasi Cuaca Panas dan Penyakit Penyerta

Ia menyinggung suhu udara di Arab Saudi nan cukup panas, berkisar 40–45 derajat celsius. Oleh lantaran itu, jemaah lansia perlu mendapat perhatian khusus, terutama nan mempunyai penyakit penyerta.

"Dan dipastikan bahwa bagian kesehatan, teman-teman kesehatan, petugas kesehatan ini juga memperhatikan gimana asupan gizi dan juga obat-obatan rutin nan kudu dikonsumsi oleh jemaah haji khususnya dengan penyakit penyerta, baik selama menunggu prosesi haji sampai kelak puncaknya ya di Arafah dan Mina," kata Netty.

Sejauh ini, Netty belum menerima laporan adanya masalah alias hambatan bagi jemaah haji lansia. Ia berambisi tidak ada kasus serius selama penyelenggaraan haji.

"Karena ibadah haji ini sebagian besarnya adalah ibadah bentuk dan puncaknya kelak pada saat wukuf di Arafah dan dua-tiga hari di Mina untuk melontar jumrah dan juga melakukan tawaf ifadah," kata Netty.

"Nah, kita berambisi di puncak haji inilah nan kemudian betul-betul jemaah haji mempunyai stamina nan fit ya, sehingga bisa mendapatkan haji nan mabrur lantaran memang tidak ada satu pun rukun nan ditinggalkan, seperti itu," tutup dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan