Tim peneliti lintas negara melakukan mengumpulkan info biofisik mangrove di Budeng, Kabupaten Jembrana, Bali.(Dok.Istimewa)
TIM peneliti lintas negara melakukan mengumpulkan info biofisik mangrove di Budeng, Kabupaten Jembrana, Bali. Proyek International Joint Research on Mangrove Ecosystems ini menjadi payung besar bagi para intelektual Kookmin University (Korea Selatan) untuk bekerja-sama dengan Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) serta juga diperkuat akademisi dari Universitas Warmadewa dan Universitas Dhyana Pura.
Fokus utama tim peneliti ini tertuju pada pengumpulan info biofisik nan presisi, bukan sekadar seremoni formal. Tim peneliti melakukan pengambilan sampel vegetasi dan sedimen secara mendalam di bawah terik mentari pesisir Jembrana. Langkah pengambilan sampel sedimen ini menjadi krusial lantaran tanah di bawah tegakan mangrove bisa menyimpan karbon biru jauh lebih besar dibandingkan rimba tropis di daratan.
Seperti disampaikan I Putu Sugiana, pengajar Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Warmadewa nan terjun langsung dalam riset ini, menjelaskan bahwa kajian sedimen bakal membuka tabir mengenai kegunaan ekologis area tersebut.
"Analisis terhadap sampel sedimen memungkinkan kita memahami karakter penyimpanan karbon dan struktur vegetasi nan ada. Data ini menjadi kunci untuk memandang sejauh mana peran area Budeng dalam mitigasi perubahan suasana secara nyata," ungkap Sugiana di sela-sela aktivitas lapangan, Selasa (21/4).
LIBATKAN MAHASISWA
Dalam riset ini juga melibatkan mahasiswa nan menjadi bagian krusial dari proses transfer pengetahuan. Mereka mempelajari teknik pengambilan info sekaligus memahami bahwa setiap sentimeter lapisan lumpur mangrove mengandung info tentang sejarah lingkungan serta keahlian penyesuaian pesisir terhadap kenaikan air laut.
Riset kolaboratif ini mencerminkan corak diplomasi sains nan nyata, melampaui sekadar pengumpulan info teknis. Masalah suasana tidak mengenal pemisah negara sehingga kerusakan mangrove di satu titik pesisir bakal berakibat pada resiliensi area secara global.
Kemitraan antara lembaga Korea Selatan dengan lembaga lokal di Bali menunjukkan bahwa pengamanan lingkungan memerlukan standar ilmiah internasional nan dipadukan dengan pemahaman konteks lokal. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya berhujung di meja laboratorium alias jurnal ilmiah, tetapi menjadi pedoman info bagi pengambil kebijakan dalam memetakan area konservasi mangrove nan lebih efektif.
Ekosistem mangrove bukan sekadar sabuk hijau pelindung pesisir dari ancaman abrasi. Akar tunjang nan rapat dan hamparan lumpur di bawahnya menyimpan arsip alam raksasa nan menentukan nasib suasana global. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·