
Tidur rupanya bisa bantu turunkan berat badan. (Foto: Freepik)
TIDUR bukan hanya waktu bagi tubuh untuk beristirahat. Kualitas dan lama tidur juga berangkaian dengan beragam aspek kesehatan, termasuk pengaturan nafsu makan, pilihan makanan, metabolisme, hingga aktivitas fisik.
Kurang tidur, nan umumnya berfaedah tidur kurang dari tujuh jam per malam, dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) nan lebih tinggi, kenaikan berat badan, serta akibat obesitas nan lebih besar. Dilansir dari Healthy Line, salah satu kajian terhadap 20 penelitian nan melibatkan sekitar 300.000 orang menemukan bahwa orang dewasa nan tidur kurang dari tujuh jam per malam mempunyai akibat obesitas 41 persen lebih tinggi.

Meski tidur bukan satu-satunya aspek nan menentukan berat badan, mendapatkan waktu rehat nan cukup dapat mendukung beragam kebiasaan nan berkedudukan dalam pengelolaan berat badan.
Dilansir dari Healthy Line, berikut 6 argumen tidur bisa bantu turunkan berat badan:
1. Membantu Mencegah Kenaikan Berat Badan
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara lama tidur nan pendek dengan peningkatan BMI dan kenaikan berat badan. Salah satu mekanismenya berangkaian dengan hormon nan mengatur rasa lapar dan kenyang.
Kurang tidur dapat meningkatkan kadar ghrelin. Ini merupakan hormon nan memberi sinyal lapar kepada otak, sekaligus menurunkan leptin, hormon nan membantu memberi sinyal kenyang. Ketika rasa lapar meningkat sementara rasa kenyang berkurang, seseorang dapat menjadi lebih mudah makan dalam jumlah lebih banyak alias memilih makanan dengan kandungan kalori tinggi.
Kurang tidur juga dapat memengaruhi sistem tubuh nan berangkaian dengan stres dan hormon, termasuk kortisol. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari hubungan kompleks antara tidur, nafsu makan, dan berat badan.
Menariknya, hubungan tersebut dapat melangkah dua arah. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan akibat gangguan tidur tertentu, seperti sleep apnea. Gangguan tidur kemudian dapat semakin mengganggu kualitas rehat sehingga terbentuk siklus nan kurang menguntungkan.
2. Membantu Mengontrol Nafsu Makan
Tidur nan cukup dapat membantu menjaga nafsu makan tetap terkendali. Sebaliknya, kurang tidur sering dikaitkan dengan meningkatnya rasa lapar dan asupan kalori harian.
Sebuah tinjauan penelitian pada 2022 menemukan bahwa kurang tidur dapat membikin seseorang mengonsumsi hingga sekitar 500 kalori tambahan per hari. Penelitian lain juga menemukan bahwa kurang tidur berangkaian dengan meningkatnya kemauan makan, ukuran porsi, serta konsumsi makanan tinggi lemak dan cokelat.
Perubahan hormon lapar dan kenyang menjadi salah satu penjelasan nan banyak dibahas. Ketika tubuh tidak memperoleh tidur nan memadai, peningkatan ghrelin dan penurunan leptin dapat membikin seseorang merasa lebih lapar. Karena itu, menjaga agenda tidur nan konsisten dapat menjadi salah satu bagian dari strategi untuk membantu mengelola pola makan.
3. Membantu Membuat Pilihan Makanan nan Lebih Sehat
Tidur juga berasosiasi dengan langkah otak mengambil keputusan. Ketika kurang tidur, kegunaan otak nan berangkaian dengan pengambilan keputusan dan pengendalian diri dapat terganggu. Akibatnya, seseorang mungkin lebih susah menahan kemauan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, alias lemak.
Kurang tidur juga tampaknya dapat meningkatkan respons pusat penghargaan di otak terhadap makanan. Sebuah penelitian pada 2019, misalnya, menemukan bahwa peserta nan kurang tidur menunjukkan respons otak mengenai penghargaan nan lebih besar ketika memandang gambar makanan berkalori tinggi.
Mereka juga lebih bersedia bayar lebih untuk makanan tersebut dibandingkan peserta nan memperoleh tidur cukup. Dengan kata lain, setelah malam nan kurang tidur, makanan nan tinggi kalori dapat terasa semakin menggoda.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·