Ilustrasi(magnifik)
Gangguan pendengaran mempunyai tingkat dan penyebab nan beragam. Karena itu, seseorang nan mengalami penurunan keahlian mendengar tidak otomatis memerlukan implan koklea. Alat tersebut merupakan salah satu pilihan untuk kondisi gangguan pendengaran tertentu, terutama ketika perangkat bantu dengar tidak lagi memberikan faedah nan memadai.
Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) di bawah National Institutes of Health (NIH), implan koklea merupakan perangkat elektronik nan bekerja dengan melewati bagian telinga nan mengalami kerusakan dan memberikan stimulasi langsung pada saraf pendengaran.
Berbeda dengan perangkat bantu dengar nan memperkuat suara, implan koklea mengubah bunyi menjadi sinyal listrik nan kemudian diteruskan ke saraf pendengaran dan otak.
Karena langkah kerjanya berbeda, implan koklea umumnya dipertimbangkan untuk orang dengan gangguan pendengaran sensorineural nan cukup berat hingga sangat berat dan memperoleh faedah terbatas dari perangkat bantu dengar. Namun, keputusan pemasangan tidak hanya berasas hasil tes pendengaran.
Tingkat Gangguan Pendengaran Menjadi Pertimbangan
Salah satu perihal pertama nan diperiksa adalah seberapa berat gangguan pendengaran nan dialami. Pada sejumlah kriteria perangkat nan telah disetujui FDA, kandidat implan dapat mencakup orang dengan gangguan pendengaran sensorineural berat hingga sangat berat pada kedua telinga. Pemeriksaan keahlian memahami percakapan dengan support perangkat bantu dengar juga menjadi bagian dari penilaian.
Artinya, seseorang dengan gangguan pendengaran ringan alias sedang belum tentu memerlukan implan koklea. Dalam kondisi tertentu, perangkat bantu dengar alias penanganan lain dapat menjadi pilihan nan lebih sesuai.
Selain tingkat gangguan pendengaran, master juga bakal memandang seberapa besar faedah nan diperoleh pasien setelah menggunakan perangkat bantu dengar. Jika perangkat tersebut tetap memberikan faedah nan baik, implan koklea mungkin belum menjadi pilihan utama.
Pemeriksaan Tidak Hanya Satu Jenis
Penentuan kandidat implan koklea memerlukan pertimbangan menyeluruh. Pemeriksaan dapat meliputi tes pendengaran, keahlian memahami ucapan, kondisi telinga bagian dalam, serta pemeriksaan medis lain nan diperlukan.
NIDCD menekankan bahwa keputusan untuk menjalani pemasangan implan sebaiknya dilakukan berbareng master ahli dan tim nan berilmu menangani implan koklea. Hasil setelah pemasangan juga dapat berbeda antara satu pasien dan lainnya.
Kondisi saraf pendengaran juga menjadi perhatian. Implan koklea bekerja dengan memberikan stimulasi melalui saraf pendengaran, sehingga kegunaan jalur pendengaran menuju otak perlu menjadi bagian dari penilaian. Pada gangguan tertentu seperti neuropati auditorik, misalnya, telinga bagian dalam dapat mendeteksi bunyi tetapi mengalami masalah dalam meneruskan info bunyi ke otak.
Anak Juga Memiliki Kriteria Tertentu
Implan koklea tidak hanya digunakan pada orang dewasa. Anak-anak dengan gangguan pendengaran berat alias sangat berat juga dapat menjadi kandidat dalam kondisi tertentu.
NIDCD menyebut FDA telah menyetujui penggunaan implan koklea pada anak nan memenuhi kriteria sejak usia sembilan bulan. Pemasangan pada usia nan lebih awal dapat membantu memberikan akses terhadap bunyi ketika anak sedang berada dalam periode krusial perkembangan keahlian bahasa dan komunikasi. Namun, usia bukan satu-satunya pertimbangan. Tingkat gangguan pendengaran, hasil pemeriksaan, faedah perangkat bantu dengar, serta kondisi kesehatan anak tetap kudu dinilai.
Kriteria kandidat juga dapat berbeda berasas jenis perangkat, usia, serta izin nan berlaku. Penelitian dan perkembangan teknologi membikin kriteria penggunaan implan koklea terus berkembang. NIDCD mencatat bahwa kriteria kandidat dalam beberapa tahun terakhir telah diperluas untuk mencakup sebagian orang nan tetap mempunyai sisa keahlian mendengar.
Implan Koklea Bukan Sekadar Operasi
Hal lain nan perlu dipahami adalah proses tidak berakhir setelah perangkat dipasang. Pemasangan implan koklea memerlukan tindakan operasi dan proses rehabilitasi pendengaran. Pasien perlu belajar alias kembali mengenali bunyi nan diterima melalui perangkat tersebut.
Karena itu, keputusan menggunakan implan koklea sebaiknya tidak dilakukan hanya lantaran seseorang mengalami gangguan pendengaran. Pemeriksaan oleh master THT dan pertimbangan audiologi diperlukan untuk menentukan penyebab gangguan, tingkat keparahan, faedah perangkat bantu dengar, serta apakah pasien memenuhi kriteria untuk menjalani prosedur tersebut.
Dengan demikian, tidak semua gangguan pendengaran kudu ditangani menggunakan implan koklea. Jenis dan tingkat gangguan pendengaran, faedah perangkat bantu dengar, hasil pemeriksaan pendengaran, kondisi saraf pendengaran, usia, serta kondisi kesehatan menjadi beberapa aspek nan perlu dipertimbangkan sebelum tindakan dilakukan.
Sumber: NIH
English (US) ·
Indonesian (ID) ·