Data Investpcro (The State of Impulse Buying-Statistics & Trends 2025) menyebut bahwa 84% konsumen pernah melakukan pembelian impulsif.(Istimewa)
CASHLESS sekarang bukan lagi hanya soal shopping online. Data OVO menunjukkan, pada tahun 2021, sebanyak 68% transaksi OVO tetap terjadi di platform online. Namun, pada 2025, kebanyakan transaksi justru terjadi secara langsung di toko, gerai, maupun warung konvensional (offline) dengan porsi mencapai 69%. Angka ini membuktikan bahwa metode cashless bukan lagi sekadar tren shopping online, melainkan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari style hidup sehari-hari di bumi nyata.
Pergeseran ke arah offline ini paling terlihat pada kategori Food & Beverage (F&B). Transaksi di merchant F&B offline tercatat meningkat hingga 590% sepanjang 2021 hingga 2025. Bahkan, per Mei 2026, transaksi QRIS OVO untuk kategori F&B didominasi oleh transaksi bernominal mini alias 'jajan receh'.
Data OVO juga mencatat bahwa pengguna OVO QRIS rata-rata bertransaksi nyaris 8 kali per bulan. Tingginya gelombang transaksi ini membuktikan melekatnya kenyamanan digital dalam memenuhi kebutuhan harian. Namun, di tengah kemudahan nan serba praktis ini, terdapat tantangan besar ialah menjaga kedisiplinan diri agar pengeluaran harian tetap seimbang dan kondisi finansial tetap sehat.
Untuk mendukung pengguna membangun kebiasaan finansial nan lebih cerdas, OVOFinTalk bekerja-sama dengan Finansialku menggelar obrolan OVOFinTalk berjudul 'Bijak di Era Cashless: Membangun Kebiasaan Finansial nan Lebih Cerdas dan Aman di Era Digital'.
Melvin Mumpuni, S.T., MBA., CFP®, QWP®, Perencana Keuangan sekaligus Founder Finansialku.com, menjelaskan bahwa ekosistem pembayaran digital saat ini memang dirancang tanpa halangan (seamless) demi kenyamanan pengguna. Namun, kemudahan teknologi perlu tetap diimbangi dengan kesadaran finansial nan kuat.
"Masyarakat tetap bisa menikmati kemudahan pembayaran digital dan memanfaatkan promo, selama perihal itu dilakukan dengan prinsip mindful spending alias shopping secara sadar. Salah satu caranya adalah menerapkan langkah Atur, Aman, dan Awasi," tutur Melvin dikutip dari siaran pers nan diterima, Senin (27/7).
Melvin menjelaskan, langkah pertama ialah ‘Atur’ dimaksudkan agar memisahkan kebutuhan pokok dengan duit jajan.
Di era cashless, transaksi mini seringkali terasa ringan lantaran proses pembayarannya sangat cepat. Namun, jika tidak dibatasi, pengeluaran untuk jajan, kopi, makanan ringan, alias kebutuhan harian lainnya bisa menumpuk tanpa disadari.
Kedua, langkah ‘Aman’ ialah dengan menggunakan pembayaran digital dengan bijak dan waspada. Selain mengatur pengeluaran, pengguna juga perlu memastikan transaksi digital dilakukan dengan aman.
Dalam menggunakan dompet digital, pengguna perlu berhati-hati dan bijak terhadap beragam akibat nan dialami, seperti membagikan password, kode pembayaran palsu, maupun tautan penipuan.
Dalam paparan Finansialku pada obrolan OVOFinTalk 2026, nan merujuk pada info Investpcro (The State of Impulse Buying-Statistics & Trends 2025), disebutkan bahwa 84% konsumen pernah melakukan pembelian impulsif. Pembelian impulsif dapat dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari FOMO, pengaruh lingkungan sosial, hingga dorongan emosi seperti stres, cemas, alias bosan.
"Karena itu, promo dan cashback sebaiknya dimanfaatkan secara bijak. Promo dapat membantu pengguna berhemat, tetapi sebaiknya digunakan untuk kebutuhan nan memang sudah direncanakan, bukan menjadi argumen untuk membeli sesuatu nan sebenarnya tidak dibutuhkan," tambah Melvin.
Langkah ketiga, ialah ‘Awasi’ dengan melakukan pengecekan riwayat transaksi dan mulai membangun kebiasaan menabung
Melalui aplikasi OVO, pengguna dapat memantau riwayat transaksi untuk memandang kembali pengeluaran nan sudah dilakukan. Riwayat transaksi ini dapat menjadi referensi untuk mengevaluasi kebiasaan belanja, sehingga pengguna bisa lebih mudah mengetahui kategori apa nan paling sering dibayar, kapan pengeluaran meningkat, dan transaksi apa saja nan sebenarnya bisa dikurangi. Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara rutin, misalnya setiap akhir pekan. Dengan demikian, transaksi mini nan sebelumnya terasa tidak signifikan dapat terlihat secara lebih menyeluruh.
Selain mengawasi pengeluaran, pengguna juga dapat mulai membangun kebiasaan menyisihkan uang. Dalam perihal ini, OVO Nabung by Superbank datang sebagai rek-wallet alias rekening e-wallet nan menggabungkan kemudahan e-wallet dengan faedah tabungan digital dalam satu aplikasi.
"Dengan memanfaatkan riwayat transaksi dan fitur menabung digital seperti OVO Nabung by Superbank, dompet digital tidak hanya digunakan untuk membayar, tetapi juga dapat membantu pengguna membangun kebiasaan finansial nan lebih sehat," ujar Asep Haekal, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank. (E-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·