Jakarta -
Ketenteraman penduduk Kampung Ciaren, Desa Karangjaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, mendadak buyar pada Rabu (19/8/2026) siang gegara cekcok antarwarga dipicu persoalan pemisah tanah. Seorang laki-laki Tata Hendro (45) namalain Danu alias Ki Danu tewas ditebas tetangganya.
Korban ditemukan tewas dengan luka robek di bagian leher di area kebun singkong nan lokasinya tak jauh dari rumahnya. Warga nan mengetahui kejadian tersebut langsung bergerombol di lokasi.
Tak lama setelah petugas Polsek Karangjaya tiba di tempat kejadian perkara (TKP), seorang laki-laki berinisial E (35) namalain Ayi, nan merupakan tetangga korban, mendatangi polisi. Dia mengaku bertanggung jawab atas pembacokan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapolsek Karangjaya Iptu Saptaji membenarkan kejadian berdarah antartetangga tersebut. Saptaji menerangkan bahwa jarak tempat tinggal antara pelaku dan korban terbilang sangat dekat di lingkungan kampung nan sama.
"Tersangka sudah langsung dibawa ke Polres, barusan berangkat. Untuk korban sudah dibawa ke RSUD dr Soekardjo. Jarak rumah korban dan pelaku itu dekat, tetap tetanggaan, jarak sekitar 200 meter," kata Saptaji dilansir detikJabar, Kamis (20/8/2026).
Berdasarkan penyelidikan kepolisian, pembacokan maut tersebut bermulai dari kesalahpahaman mengenai pemisah tanah. Korban sebelumnya menjual sebidang tanah miliknya kepada seseorang nan berencana mendirikan rumah di lahan nan berbatasan langsung dengan tanah milik Sanusi, ayah dari tersangka Ayi.
"Informasi nan berkembang di lapangan memang masalah pemisah tanah. Awalnya korban menjual tanah kepada seseorang. Kemudian pembelinya mau membangun rumah," kata Saptaji.
Gesekan memuncak saat pembeli tanah tengah berbincang dengan Sanusi perihal penempatan material bangunan. Dari dalam rumahnya, korban menyergah hingga memantik adu mulut dan perkelahian bentuk dengan Sanusi.
"Sanusi sedang berbincang dengan si pembeli tanah, korban ngomong dari dalam rumahnya. 'Naon sia teh ngucik-ngucik wae batas' (apa Anda terus mempermasalahkan batas)," kata Saptaji.
Melihat suaminya terlibat perkelahian dengan korban, istri Sanusi panik dan mengadu kepada putranya, Ayi. Tersulut kemarahan mendapati berita sang ayah tengah berduel, Ayi mendatangi letak sembari menghunus golok lampau menebas leher korban di kebun singkong.
"Istri Sanusi menghampiri keributan itu, lampau menunjukkan anaknya (tersangka). Kemudian anaknya datang membawa golok, sampai terjadi kejadian itu," kata Saptaji.
Baca selengkapnya di sini.
(eva/idh)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·