Terlihat Sehat Belum Tentu Bebas Risiko Serangan Jantung dan Stroke

Sedang Trending 10 jam yang lalu
Terlihat Sehat Belum Tentu Bebas Risiko Serangan Jantung dan Stroke Ilustrasi(magnifik)

PENAMPILAN nan sehat tidak selalu mencerminkan kondisi pembuluh darah dan jantung nan sebenarnya. Banyak orang baru mengetahui dirinya mempunyai tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, alias gangguan jantung setelah mengalami serangan jantung maupun stroke. 

Menurut National Institutes of Health (NIH), sebagian besar aspek akibat tersebut dapat berkembang tanpa indikasi sehingga pemeriksaan kesehatan rutin menjadi langkah krusial untuk mendeteksinya lebih dini. 

Penyakit Jantung Tak Selalu Menunjukkan Gejala

NIH menjelaskan bahwa serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju jantung tersumbat, umumnya akibat pembekuan darah. 

Sementara itu, stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik lantaran penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan organ dalam waktu singkat sehingga memerlukan penanganan segera.

Selain serangan jantung nan disertai nyeri dada hebat, terdapat pula silent heart attack alias serangan jantung tanpa indikasi nan jelas. 

Menurut American Heart Association (AHA), silent heart attack dapat terjadi tanpa keluhan alias hanya menimbulkan indikasi ringan, seperti mudah lelah, gangguan pencernaan, sesak napas, alias rasa tidak nyaman di dada dan punggung. 

Karena gejalanya sering disalah artikan sebagai keluhan biasa, kondisi ini kerap baru terdeteksi melalui pemeriksaan EKG alias pencitraan jantung. 

Tampak Sehat Bukan Berarti Bebas Risiko

Penelitian nan dipresentasikan pada International Stroke Conference AHA menemukan bahwa orang dewasa berumur 65 tahun ke atas nan mempunyai bukti serangan jantung tanpa indikasi mengalami peningkatan akibat stroke sebesar 47 persen dibandingkan mereka nan tidak mengalaminya. 

Para peneliti menduga serangan jantung tanpa indikasi dapat menyebabkan terbentuknya bekuan darah di jantung nan kemudian terlepas dan mengalir ke otak sehingga memicu stroke. 

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami langkah terbaik mencegah stroke pada golongan ini.

Di sisi lain, NIH menjelaskan bahwa sebagian besar serangan jantung dan stroke terjadi pada orang nan mempunyai aspek akibat tertentu, meski secara bentuk terlihat sehat. 

Faktor tersebut meliputi tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kelebihan berat badan alias obesitas, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, riwayat keluarga, hingga pernah mengalami serangan jantung alias stroke sebelumnya. 

Hipertensi menjadi salah satu aspek nan sering tidak disadari lantaran umumnya tidak menimbulkan gejala.

Kenali Gejala dan Kurangi Risiko

NIH mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan indikasi seperti nyeri alias rasa tertekan di dada, sesak napas, nyeri pada lengan, punggung, leher, alias rahang, keringat dingin, mual, hingga pusing. 

Pada stroke, tanda nan paling umum adalah wajah menurun sebelah, kelemahan pada lengan, kesulitan berbicara, gangguan keseimbangan, alias gangguan penglihatan nan muncul secara tiba-tiba. 

Bila indikasi tersebut muncul, pertolongan medis kudu segera dicari lantaran setiap menit sangat berharga.

Untuk membantu menurunkan risiko, NIH menyarankan masyarakat menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, berakhir merokok, tidur nan cukup, mengelola stres, serta memeriksa tekanan darah dan kadar kolesterol secara berkala. 

Karena sebagian aspek akibat berkembang tanpa gejala, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi langkah krusial untuk mendeteksi masalah lebih awal sebelum berkembang menjadi serangan jantung alias stroke.

Sumber: National Institutes of Health, American Heart Association

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia