Gambar dari NIRCam pada Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA menunjukkan Little Red Dot Abell2744-QSO1, diperbesar dan dipotret tiga kali oleh gugus galaksi Abell 2744 (Gugus Pandora).(Dok NASA, ESA, CSA, Lukas Furtak)
PENEMUAN revolusioner dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) milik NASA mulai mengubah pemahaman manusia tentang sejarah alam semesta. Selama ini, para intelektual meyakini bahwa galaksi terbentuk lebih dulu kemudian bintang-bintang besar di dalamnya meninggal dan runtuh menjadi lubang hitam nan kemudian tumbuh besar seiring waktu.
Namun, info terbaru menunjukkan skenario nan sebaliknya: lubang hitam supermasif mungkin telah ada sejak awal bahkan sebelum galaksi inangnya terbentuk sepenuhnya.
Paradigma Baru: Lahir sebagai Raksasa
Para peneliti nan menggunakan JWST mendeteksi bukti jelas bahwa beberapa lubang hitam supermasif sudah berukuran sangat besar sejak awal pembentukannya. Mereka terbentuk tanpa melalui fase keruntuhan bintang (stellar collapse) dan tanpa memerlukan galaksi inang nan masif untuk memberi mereka makan.
"Ini temuan nan luar biasa," ujar Roberto Maiolino dari University of Cambridge, salah satu penulis studi nan diterbitkan dalam jurnal Nature dan Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. "Ini pergeseran paradigma, peninjauan total terhadap skenario klasik tentang gimana lubang hitam terbentuk dan tumbuh."
Misteri Titik Merah Kecil QSO1
Kesimpulan tim peneliti didasarkan pada observasi mendalam terhadap Abell2744-QSO1 (QSO1), objek nan dikenal sebagai Little Red Dot (Titik Merah Kecil) nan sudah ada hanya 700 juta tahun setelah Big Bang. Meskipun hanya berdiameter 1.300 tahun cahaya, sinar dari QSO1 menempuh perjalanan selama lebih dari 13 miliar tahun untuk mencapai Bumi.
Melalui instrumen Near Infrared Spectrograph (NIRSpec) pada Webb, tim sukses memetakan pergerakan gas hidrogen di sekitar lubang hitam tersebut. Mereka menemukan bahwa gas tersebut mempunyai aktivitas Keplerian, mengorbit titik pusat dengan langkah nan sama seperti planet mengorbit Matahari di tata surya kita.
Fakta Kunci QSO1:
- Massa: Sekitar 50 juta kali massa Matahari.
- Proporsi: Menyumbang setidaknya dua pertiga dari total massa seluruh sistem QSO1.
- Komposisi: Hampir seluruhnya terdiri dari hidrogen dan helium, dengan kandungan komponen berat (seperti oksigen) kurang dari 0,5% dari Matahari.
Bukti Lubang Hitam Primordial
Proporsi massa lubang hitam nan sangat besar dibandingkan galaksi inangnya menunjukkan bahwa dia tidak mungkin terbentuk secara berjenjang dari penggabungan lubang hitam kecil. Sebaliknya, ini memperkuat teori tentang direct collapse black holes alias lubang hitam primordial nan lahir langsung dari awan gas raksasa alias kondisi ekstrem sesaat setelah Big Bang.
"Tampaknya kita menemukan lubang hitam nan tidak mempunyai galaksi inang nan substansial dan mendahului proses pembentukan bintang," kata Ignas Juodžbalis, mahasiswa pascasarjana Cambridge nan memimpin salah satu studi tersebut.
Temuan ini mengindikasikan bahwa lubang hitam supermasif mungkin merupakan benih yang memicu pembentukan galaksi di sekitarnya, bukan sekadar hasil sampingan dari perkembangan galaksi. Saat ini, tim peneliti terus menganalisis objek serupa untuk memastikan apakah kejadian ini merupakan standar dalam pembentukan struktur awal alam semesta. (NASA/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·