Tempe selama ini dikenal sebagai sumber protein nan terjangkau dan mudah ditemukan di beragam wilayah di Indonesia. Namun, di kembali popularitasnya sebagai lauk sehari-hari, tempe juga merupakan salah satu pangan fermentasi yang mengandung mikroorganisme berfaedah bagi tubuh.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., Ph.D, dalam aktivitas Press Conference Peluncuran Varian Yakult Rasa Terbaru di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (25/5).
Tempe Tidak Hanya Kaya Protein
Menurut Prof. Wellyzar, tempe tidak hanya mengandung protein dan karbohidrat, tetapi juga mikroorganisme nan terbentuk selama proses fermentasi.
"Tempe juga merupakan makanan nan mengandung probiotik," ujarnya saat ditanya kumparanMOM.
Meski demikian, tempe umumnya dikonsumsi setelah dimasak sehingga sebagian besar mikroorganisme tersebut tidak lagi hidup. Namun, manfaatnya tidak serta-merta hilang.
Ia menjelaskan bahwa senyawa metabolit nan dihasilkan selama proses fermentasi tetap tersimpan di dalam tempe. Selain itu, sisa-sisa sel mikroorganisme nan sudah tidak aktif juga tetap dapat memberikan faedah bagi kesehatan.
"Tapi walaupun probiotiknya mati, walaupun bakterinya mati. Tetapi senyawa-senyawa metabolit nan dihasilkan si kuman tentu sudah ada di tempenya. Jadi tetap saja kita bisa mendapat faedah dari sisa-sisa sel-sel kuman nan sudah tidak aktif. Itu tetap bisa meningkatkan sel imun kita,” tegasnya.
Indonesia Kaya Pangan Fermentasi
Selain tempe, Indonesia juga mempunyai beragam pangan fermentasi tradisional lainnya seperti dadih, dangke, tape singkong, dan tape ketan.
Menurut Prof. Wellyzar, makanan-makanan tersebut mengandung mikroorganisme nan berkedudukan dalam proses fermentasi dan menghasilkan beragam senyawa nan berfaedah bagi tubuh. Pada tape, misalnya, terdapat mikroorganisme Saccharomyces cerevisiae yang membantu proses fermentasi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·