Teknologi Mulai Ubah Cara Pemulihan Lingkungan di Sektor Pertambangan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Teknologi Mulai Ubah Cara Pemulihan Lingkungan di Sektor Pertambangan Aksi penanaman pohon nan digelar oleh Ceria Corp nan berjudul "Green Legacy" di area revegetasi Emerald Puncak, Kolaka.(Antara)

Pemulihan lingkungan di area pertambangan sekarang tidak lagi hanya mengandalkan aktivitas penanaman pohon. Seiring berkembangnya teknologi, beragam perusahaan mulai memanfaatkan sistem digital untuk memastikan setiap upaya penghijauan dapat dipantau, diukur, dan memberikan faedah jangka panjang bagi ekosistem.

Pendekatan tersebut diterapkan Ceria Corp melalui program Green Legacy yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Mengusung tema Satu Pohon, Satu Warisan, Satu Komitmen, program ini mengombinasikan aktivitas revegetasi dengan sistem pencatatan digital nan memungkinkan setiap pohon dipantau perkembangan dan tingkat keberhasilannya dari waktu ke waktu.

Kegiatan berjalan di area lahan jejak pertambangan Emerald Puncak, Kolaka, Sulawesi Tenggara, pada 9 Juni 2026. Area tersebut dipilih lantaran menjadi salah satu contoh keberhasilan pemulihan lahan nan selama ini dijalankan perusahaan sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan pascatambang.

Direktur Utama PT Ceria Nugraha Indotama, Abdul Haris Tatang, mengatakan Green Legacy tidak hanya bermaksud menambah tutupan hijau, tetapi juga membangun keterlibatan setiap perseorangan dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Setiap pohon nan ditanam bakal menjadi bagian dari sejarah nan kita tulis bersama. Green Legacy menjadi pengingat bahwa setiap Insan Ceria mempunyai kontribusi dalam mewujudkan masa depan nan lebih hijau dan mengembalikan faedah lingkungan bagi anak cucu kita kelak,” ujarnya.

Berbeda dengan program penghijauan pada umumnya, setiap pohon nan ditanam dalam Green Legacy dilengkapi pengarsipan digital. Informasi seperti nama penanam, jenis tanaman, waktu penanaman, hingga titik koordinat letak tersimpan dalam sistem perusahaan sehingga perkembangan tanaman dapat dipantau secara berkelanjutan.

Manager Environmental PT Ceria Nugraha Indotama, Akramakum Ramli, menjelaskan bahwa seluruh bibit nan digunakan berasal dari akomodasi pembibitan milik perusahaan dan ditanam pada area revegetasi nan telah ditetapkan dalam rencana pengelolaan lingkungan.

Menurutnya, setiap titik penanaman didokumentasikan menggunakan koordinat GPS dan dilengkapi info jenis tanaman, tanggal penanaman, serta identitas peserta nan terlibat.

“Seluruh info tersebut bakal diintegrasikan ke dalam sistem Go Mine sebagai bagian dari database revegetasi perusahaan dan menjadi bahan pelaporan kepada Kementerian Lingkungan Hidup maupun Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara sesuai ketentuan nan berlaku,” jelasnya.

Melalui sistem tersebut, perusahaan dapat memantau tingkat keberhasilan revegetasi secara lebih jeli sekaligus mengevaluasi efektivitas program pemulihan lingkungan dalam jangka panjang. Pendekatan berbasis info ini juga diharapkan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan lingkungan di sektor pertambangan.

Head of Sustainability & Corporate Management System Ceria Corp, Krishna Ismaputa, mengatakan program Green Legacy merupakan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan nan sejalan dengan sasaran Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya mengenai tindakan iklim, perlindungan ekosistem perairan, dan pemulihan ekosistem daratan.

Menurutnya, kombinasi antara penghijauan dan teknologi menjadi langkah untuk memastikan setiap kontribusi terhadap lingkungan dapat terus memberikan akibat nan nyata.

“Melalui penanaman dan pencatatan nan terintegrasi, kami mau memastikan bahwa setiap kontribusi terhadap lingkungan dapat terus memberikan faedah dalam jangka panjang,” katanya.

Program Green Legacy juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Good Mining Practice dan penguatan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasional perusahaan.

Hingga saat ini, Ceria tercatat telah merevegetasi lahan seluas 199,64 hektare. Capaian tersebut disebut melampaui tanggungjawab minimum nan ditetapkan regulator dan menjadi salah satu parameter komitmen perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan nan berkelanjutan.

Upaya tersebut juga sejalan dengan semangat Proper Hijau nan mendorong pelaku upaya menghadirkan penemuan lingkungan melampaui standar kepatuhan. Sebelumnya, perusahaan memperoleh penghargaan Proper Hijau 2024-2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup atas beragam program pengelolaan lingkungan nan dijalankan.

Manager Sustainability Ceria Corp, Ajron Adhiema, menilai keberhasilan menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, mitra kerja, dan masyarakat menjadi aspek krusial dalam memastikan keberlanjutan program pemulihan lingkungan.

“Karena pada akhirnya, menjaga bumi bukan sekadar kewajiban, melainkan tanggung jawab berbareng nan kudu diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Ratusan peserta nan terdiri dari jejeran manajemen, karyawan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan mitra kerja turut ambil bagian dalam aktivitas tersebut. Kehadiran beragam pemangku kepentingan menunjukkan bahwa upaya pemulihan lingkungan memerlukan keterlibatan banyak pihak agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Melalui Green Legacy, perusahaan berupaya menunjukkan bahwa penghijauan tidak berakhir pada proses menanam pohon. Dengan support teknologi dan sistem pemantauan nan terintegrasi, setiap pohon dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan lingkungan nan terdokumentasi, terukur, dan bisa memberikan faedah bagi ekosistem dalam jangka panjang. (Ant/E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia