Jakarta -
Bagi nelayan tradisional, pergi melaut selalu mengandung ketidakpastian. Bahan bakar sudah dihabiskan, waktu dan tenaga pun dipertaruhkan.
Namun tak jarang nelayan pulang dengan hasil tangkapan nan mengecewakan. Di Cilacap Selatan, Jawa Tengah, sekitar 41 persen dari 6.806 perjalanan melaut nan dicatat MetaSeaco mengalami kerugian.
Kondisi inilah nan mendorong startup jebolan program Pertamuda Pertamina itu mengembangkan Iwak ialah teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan info satelit nan membantu nelayan menentukan kapan sebaiknya melaut, ikan nan ditargetkan, hingga titik koordinat potensial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari rumah, nelayan sudah bisa mengetahui apakah hari itu sebaiknya melaut alias tidak. Jika melaut, teknologi ini juga memberikan rekomendasi titik koordinat dan waktu terbaik untuk menangkap ikan," ujar CEO MetaSeaco, Catur Prasetyo Nugroho dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8/2026).
Kini, Iwak telah digunakan 15 perahu nelayan di Cilacap. Hasilnya, biaya operasional dapat ditekan sekitar 23 persen, sementara pendapatan rata-rata nelayan meningkat 68 persen. Perjalanan melaut nan merugi juga turun dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen.
Prediksinya pun menunjukkan hasil menjanjikan. Akurasi untuk ikan tenggiri batang mencapai 91 persen, ikan bawal putih 85 persen, dan ikan layur 70 persen. Dalam salah satu perjalanan, nelayan nan mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi apalagi dapat menjaring pendapatan sekitar Rp 3 juta.
Dari 15 perahu di Cilacap, penemuan ini sekarang berkesempatan menjangkau lebih banyak desa. Melalui kerjasama Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina dengan program Pertamuda, teknologi MetaSeaco bakal dikembangkan dan direplikasi untuk mendukung masyarakat bimbingan Pertamina di sekitar wilayah operasinya.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Pertamina mendorong DEB tidak hanya menjadi tempat pemanfaatan daya baru terbarukan, tetapi juga ruang bertemunya penemuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
"Semakin banyak teknologi tepat guna nan bisa diterapkan, tentu bakal semakin bagus. Harapannya, akibat dari 269 Desa Energi Berdikari nan kami miliki bisa semakin besar," ujar Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto.
Selain MetaSeaco, penemuan juga bakal dibawa Terangin, startup daya terbarukan Top 3 Pertamuda 2025 kategori Energy Future, ke DEB Juntinyuat, Indramayu. Salah satunya melalui teknologi penghalau burung berbasis laser otomatis untuk membantu petani mengurangi gangguan hama.
Sementara itu, CEO Terangin Muhammad Hanif, optimistis penerapan teknologi tersebut dapat membantu petani mengurangi gangguan (benih)penyakit burung sekaligus meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
"Terima kasih kepada Pertamina dan Pertamuda nan telah memberikan beragam dukungan, mulai dari pendanaan, mentoring, publikasi, dan banyak perihal lainnya. Dukungan tersebut sangat membantu kami untuk terus berkembang dan menjadi lebih mandiri," ujarnya.
Sementara itu, di DEB Nagari Katapiang, Pertamina menggandeng PT Global Vision Tech untuk mengembangkan rantai nilai komoditas kelapa, mulai dari peningkatan kapabilitas masyarakat hingga pengolahan dan pembuatan produk berbobot tambah.
Bagi Pertamina, rangkaian kerjasama ini menunjukkan bahwa penemuan tidak semestinya berakhir sebatas purwarupa, alias memenangkan kompetisi. Inovasi kudu menemukan jalannya menuju masyarakat.
"Melalui Festival Desa Energi Berdikari 2026, Pertamina mendorong semakin banyak penemuan karya anak bangsa untuk menemukan ruang implementasinya di tengah masyarakat. Sebab, ketika energi, teknologi, dan penemuan berjumpa dengan kebutuhan masyarakat, nan tumbuh bukan hanya produktivitas tetapi juga kemandirian," pungkas Rudi.
(akn/ega)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·