Teknologi 3D Ungkap Semut Purba di Koleksi Amber Sastrawan Goethe

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Teknologi 3D Ungkap Semut Purba di Koleksi Amber Sastrawan Goethe Semut dalam getah pohon: †Ctenobethylus goepperti dalam getah pohon (sebelah kiri dalam batu) dari koleksi Goethe.(Bernhard Bock/Daniel Tröger)

PARA intelektual sukses mengungkap keberadaan tiga fosil serangga purba nan tersembunyi di dalam bongkahan batu amber kuno. Uniknya, batu resin pohon nan telah memfosil selama puluhan juta tahun ini merupakan bagian dari koleksi pribadi penulis legendaris asal Jerman, Johann Wolfgang von Goethe.

Koleksi milik Goethe nan sekarang disimpan di Goethe National Museum dan dikelola oleh Klassik Stiftung Weimar ini mempunyai 40 bongkahan amber Baltik. Dari puluhan koleksi tersebut, dua spesimen di antaranya rupanya menyimpan fosil hewan. Fosil-fosil ini selama ini nyaris mustahil dilihat dengan mata bugil lantaran permukaan batu ambernya tidak pernah dipoles.

Guna meneliti lebih lanjut, tim peneliti dari University of Jena memanfaatkan teknik pemindaian modern. Menggunakan teknologi synchrotron micro-computed tomography di akomodasi DESY (German Electron Synchrotron) Hamburg, mereka sukses menciptakan gambar tiga dimensi (3D) nan sangat detail. Hasil pemindaian tersebut menyingkap tiga jenis serangga: seekor agas jamur (fungus gnat), seekor lalat hitam (black fly), dan seekor semut purba.

Di antara ketiganya, penemuan semut purba menjadi perihal nan paling menarik perhatian.

"Semut ini termasuk dalam jenis punah †Ctenobethylus goepperti (Mayr, 1868), nan sebenarnya sangat umum ditemukan di dalam batu amber," jelas Bernhard Bock dari Phyletisches Museum, University of Jena. "Namun, berkah pengawetan nan sangat baik dan investigasi nan ekstensif, kami dapat mendeskripsikannya dengan lebih perincian daripada sebelumnya dan memperoleh info baru mengenai jenis serta kekerabatannya."

Berkat kondisi fosil nan terjaga sempurna, intelektual bisa mengawasi fitur tubuh nan belum pernah didokumentasikan sedetail ini. Pemindaian tersebut memperlihatkan rambut-rambut lembut pada tubuh semut pekerja, apalagi memvisualisasikan struktur rangka internal di dalam kepala dan dada (thorax) si semut.

Tim peneliti juga sukses membikin rekonstruksi digital komplit dari fosil tersebut.

"Kami telah memproses spesimen ini sepenuhnya dan, berasas info baru nan diperoleh, membikin rekonstruksi 3D nan tersedia secara online," kata Daniel Tröger dari University of Jena. "Model ini membantu rekan-rekan di seluruh bumi untuk mengidentifikasi dan membandingkan fosil-fosil lain dari jenis ini."

Melalui komparasi dengan genus semut modern Liometopum nan saat ini hidup di Amerika Utara dan wilayah Eropa nan lebih hangat, para peneliti meyakini bahwa semut purba ini dulunya membangun sarang besar di pepohonan. Hal tersebut menjelaskan kenapa mereka sangat sering terjebak dan terawetkan di dalam resin pohon (amber).

Semasa hidupnya, Goethe sendiri sebenarnya kurang tertarik pada nilai paleontologi dari batu amber dan lebih konsentrasi pada sifat optiknya. Ia apalagi sempat mengasah resin fosil tersebut menjadi lensa untuk mempelajari pengaruh warna bagi karya teori warnanya.

Meskipun literatur awal mengenai fosil amber sudah ada di perpustakaan pribadinya, signifikansi ilmiah nan mendalam dari fosil-fosil ini melampaui apa nan bisa dibayangkan oleh para peneliti di era Goethe.

"Goethe dianggap sebagai pendiri morfologi dan kemungkinan besar bakal sangat ceria memandang gimana kami bisa memperoleh wawasan berbobot di bagian ini menggunakan metode nan sepenuhnya baru," ungkap Bernhard Bock. "Pada saat nan sama, hasil ini menunjukkan nilai dari koleksi sejarah semacam itu. Sungguh menakjubkan bahwa sebuah objek nan berasal dari tangannya dan eranya, ketika pengetahuan pengetahuan ini baru dimulai, tetap dapat memperkaya kita begitu banyak hari ini."

Penemuan ini menjadi bukti nyata gimana koleksi museum nan dikumpulkan beratus-ratus tahun lampau tetap terus menyumbang kontribusi besar bagi sains modern. (Science Daily/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑