Tangis Hasto Pecah Saat Teatrikal Kudatuli Dipentaskan

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDIP Bonnie Triyana mengatakan tiga dasawarsa telah berlalu sejak peristiwa Kudatuli nan menjadi salah satu titik kembali perjalanan kerakyatan Indonesia. Namun, menurutnya, keadilan bagi para korban belum sepenuhnya terwujud.

"Tiga puluh tahun berlalu sejak peristiwa 27 Juli 1996 menjadi titik kembali perjalanan kerakyatan Indonesia. Waktu boleh berjalan, tetapi luka sejarah tidak pernah betul-betul lenyap selama keadilan belum sepenuhnya ditegakkan," kata Bonnie.

Ia menegaskan, pementasan teatrikal bukan dimaksudkan untuk membuka kembali luka lama, melainkan menjaga ingatan kolektif atas peristiwa tersebut.

"Kita tidak datang untuk membuka kembali luka, melainkan untuk memastikan bahwa luka itu tidak pernah dilupakan. Teatrikal ini bukan sekadar seni, tapi upaya menghadirkan kembali masa ketika kekerasan digunakan terhadap oposisi. Seni membantu kita merasakan apa nan tidak terungkap oleh dokumen," ujarnya.

Usai pementasan, rangkaian aktivitas dilanjutkan dengan ritual budaya ruatan kebangsaan nan dibawakan masyarakat budaya Kasepuhan Cisungsang, Banten Kidul. Prosesi tersebut digelar sebagai simbol pembersihan jiwa dan angan berbareng bagi para korban Kudatuli.

Acara kemudian ditutup dengan pagelaran seni tradisional Ngarengkong dari Kasepuhan Cilebang serta pembacaan puisi Melawan dan Berjuang oleh seniman Butet Kartaredjasa.

Peristiwa Kudatuli terjadi pada 27 Juli 1996 di Kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Saat itu, instansi nan dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri diserbu massa pendukung Soerjadi nan terpilih sebagai Ketua Umum PDI jenis Kongres Medan. Peristiwa tersebut menewaskan sedikitnya lima orang dan menyebabkan ratusan lainnya terluka.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita